Kaki yang tak Beralas
Saat itu senja, matahari sudah lelah menampakan dirinya di sisi bumi terbaik yang ku pijak,
Lalu kubiarkan waktu mengistirahatkan nya,
Tapi aku tak mengizinkan diri ini untuk berhenti
Aku memang lelah,
tapi Aku tidak boleh diam
Keretaku bergerak cepat,
Apa yang kulihat diluar tampak samar,
Seperti kilasan ulas balik,
"Hei, nak."
Aku bergeming,
"Patah hati memang menyesakan, tapi ialah yang membuatmu baik hari ini."
Katanya,
Seorang laki-laki paruh baya,
Rambutnya sudah memutih,
Kacamatanya turun,
Ia sendirian,
Tersenyum padaku, tampak bahagia
"Ya, terimakasih." Balasku
Jadi ku biarkan diri ini menempuh waktu dengan kaki tak beralas,
Sakit, memang,
Tapi ini akan segera berakhir
Sudah bermil-mil raga ini berkelana,
Berjalan, berlari menjauh yang kuyakini tanpa arah,
Sungguh,
Untuk pertama kalinya dalam hidupku,
Aku sungguh-sungguh berlari,
Demi Tuhan,
Maaf, karena sudah seperti ini,
Hatiku patah dan meminta dimanjakan,
Maaf, karena milikku begitu rapuh,
Begitu mudah hancur ketika dihentakan,
Maaf, karena pergi tanpa jejak,
Karena jiwa ini sudah memutuskan pilihannya,
Aku pergi, untuk hati,
Entah milikku, atau milikmu,
Kuharap keduanya baik,
Tak ada lagi yang patah,
Tak ada lagi yang kehilangan,
Tak ada lagi yang terluka karena pergi dengan kaki tak beralas,
Ku izinkan perasaan ini memaksa kereta yang kunaiki terasa lebih cepat,
Agar kamu tak terasa lagi di hati yang patah ini,
Iya, benar, hati milikku.
/bellavir/
Lalu kubiarkan waktu mengistirahatkan nya,
Tapi aku tak mengizinkan diri ini untuk berhenti
Aku memang lelah,
tapi Aku tidak boleh diam
Keretaku bergerak cepat,
Apa yang kulihat diluar tampak samar,
Seperti kilasan ulas balik,
"Hei, nak."
Aku bergeming,
"Patah hati memang menyesakan, tapi ialah yang membuatmu baik hari ini."
Katanya,
Seorang laki-laki paruh baya,
Rambutnya sudah memutih,
Kacamatanya turun,
Ia sendirian,
Tersenyum padaku, tampak bahagia
"Ya, terimakasih." Balasku
Jadi ku biarkan diri ini menempuh waktu dengan kaki tak beralas,
Sakit, memang,
Tapi ini akan segera berakhir
Sudah bermil-mil raga ini berkelana,
Berjalan, berlari menjauh yang kuyakini tanpa arah,
Sungguh,
Untuk pertama kalinya dalam hidupku,
Aku sungguh-sungguh berlari,
Demi Tuhan,
Maaf, karena sudah seperti ini,
Hatiku patah dan meminta dimanjakan,
Maaf, karena milikku begitu rapuh,
Begitu mudah hancur ketika dihentakan,
Maaf, karena pergi tanpa jejak,
Karena jiwa ini sudah memutuskan pilihannya,
Aku pergi, untuk hati,
Entah milikku, atau milikmu,
Kuharap keduanya baik,
Tak ada lagi yang patah,
Tak ada lagi yang kehilangan,
Tak ada lagi yang terluka karena pergi dengan kaki tak beralas,
Ku izinkan perasaan ini memaksa kereta yang kunaiki terasa lebih cepat,
Agar kamu tak terasa lagi di hati yang patah ini,
Iya, benar, hati milikku.
/bellavir/
Comments
Post a Comment