Badai-ku

Bila sesuatu merampas apa yang kau pikir tidak akan hilang,
Siapa yang hendak kau salahkan?

Waktu?
Atau,
Dirimu kah?

Lalu bagaimana jika angin yang dulu berusaha menyejukan mu,
Kini berubah menjadi badai?

Maukah kau kembali menata apa yang ia hancurkan?

Apa yang terjadi saat itu begitu lekat di ujung ingatan,
Berusaha di lenyapkan tapi tak kunjung hilang
Aku begitu paham rasanya,
Tapi terlalu bodoh karna tak menyadari,


Bahwa angin memang tak seberharga itu,


Karna Aku tau ada yang lebih menginginkan nya,
Membutuhkan nya,
Angin itu,
Dia meninggikan egonya agar tak ada yang merebut rasa sejuknya

Aku benci,
Aku sudah menanggalkan pakaian agar kurasakan rasamu,
Rasa sejuk itu,
Tapi sesuatu merubahmu menjadi badai,
Hingga segalanya terlempar hancur berserakan,
Puing-puing yang dulu kukira takkan runtuh,
Kini sudah menjadi butiran yang tak ada harganya lagi

Jadi ku kenakan lagi segalanya,
Pakaian ku, hati ini,
Semuanya
Hingga tak ada lagi celah untuk angin yang meraba kulit ku hingga menusuk ke tulang,


Aku ingin kau menjadi badai untuknya,


Sungguh-sungguh ingin dia merasakan juga hembusan terkuatmu,

Hingga dia juga terlempar jauh,
Lebih jauh dari harapanku untuk kembali merasakan hembusan lembutmu.




/bellavir/

Comments

Popular Posts