Ingatan di Ujung Mata
Setelah kakinya turun untuk pergi meninggalkan,
menahan diri,
sekuat tenaga,
untuk tidak sekali lagi menoleh
untuk yang terakhir kalinya
yang Ia lihat dari ujung matanya,
sepersekian detik berusaha mengumpulkan sisa-sisa
peristiwa yang bisa Ia bawa pulang,
hanyalah lambaian tangan bergerak lamban,
berat,
perlahan,
seperti sebuah rasa bersalah yang menggantung di hatinya
Tak tahu kah Dia,
bahwa saat itu,
sebuah pukulan hebat dan sebuah beban
yang Ia sembunyikan rasa sakitnya,
hampir saja terurai menjadi air
yang tumpah melalui mata rapuhnya
Jikalau Ia sedikit lebih lama lagi
berada disana,
mungkin Dia akan melihat dengan terkejut
bagaimana ternyata,
Dia mampu menghancurkan diding kokoh
yang Ia bangun dengan sedemikian rupa
demi dirinya
Setelah pergi meninggalkan,
Ia sungguh-sungguh berlari menjauhi,
berharap tak sedikitpun tentangnya
mampu mengikutinya ke dalam ruangan
Tangannya gemetar,
menggigit bibir menahan luapan,
hingga masuk dan menutup pintu perlahan,
menguncinya,
menutup wajah dengan telungkup tangan,
tanpa pencahayaan sedikitpun
Lihat,
si bodoh menangis
mengetahui semua bayangan
yang Ia rangkai dengan begitu baik,
baru saja runtuh dan hancur tak berbentuk lagi
Ia belum siap,
Ia belum menyiapkan diri untuk bagian ini
mungkin tidak akan pernah,
Ia takkan mau bagian ini terjadi
tidak akan.
/bellavir/
Comments
Post a Comment