Ia dan Keramaian

Ada yang melarikan diri,
demi lari dari ingatan yang menyesakan dadanya.
Ada yang menghindari kesendirian dalam ruang hampa,
mencari keramaian,
namun tetap pergi seorang diri.

Sampai suatu petang,
ketika matahari mulai menenggelamkan dirinya,
Ia enggan memilih untuk pulang.
Karena pulang berarti sendiri,
dan sendiri berarti sepi,
dan sepi berarti memanggil kenangan,
yang menusuk-nusuk ulu hatinya.

Menjelang malam,
Ia masuk ke dalam toko roti kesukaannya,
memesan sepotong roti bertabur gula,
berharap mampu menekan kepahitan yang dirasakannya.
Namun tetap saja.

Ia juga memesan secangkir kopi tanpa disadari,
berharap kehangatannya mampu menenangkan,
Namun malah sebaliknya.

Jantungnya berdebar cepat dan begitu terasa,
isi kepalanya berputar memeras ingatan,
bergulat dengan hati,
yang sesungguhnya tak ingin mengingat apapun.

Kesendiriannya di tengah keramaian,
dan pemandangan kursi kosong di hadapannya,
membuat Ia sekuat tenaga menahan diri,
untuk tidak tertunduk sedih




Maaf, tidak bisa, maaf, aku takut





maaf, maaf, maaf





Hanya itu yang Ia ingat,

tapi,
bukan itu yang Ia butuhkan



Ia ingin Kau,
Kau,



Astaga,



tidak percaya kah?




/bellavir/

Comments

Popular Posts