Pada Rintik Hujan Kesekian
Turun kah hujan di atas atapmu kini?
dingin kah udara yang menyelimuti tidurmu sekarang?
Mampu kah Kau terlelap dengan rasa nyaman?
Bagaimana dengan mimpimu malam ini?
Ku harap segalanya berjalan baik,
Ku harap Kau bisa terlelap dengan tenang
Ku harap hujan pada pukul tiga pagi ini,
tidak akan membangunkanmu
Ku harap suaranya mampu membelaimu perlahan
menjadikannya irama
pembawa mimpi indah untukmu
Ku harap Kau baik,
Ku harap Kau tetap hangat
dan berlindung di balik selimutmu
Ku harap kau takkan pernah lagi terjaga hingga pagi
mengerjakan sesuatu demi mimpimu,
lalu terbangun dengan rasa lelah
Ku harap Kau takkan lagi harus begitu
sepertiku,
dengan mata sendu,
memilih terbangun dan menulis tentangmu
di bawah hujan yang terus menerus berjatuhan
Aku memang sudah gila,
mungkin karena menyayangi dengan begitu keras,
tanpa memastikan sedikitpun
bahwa Kau membutuhkannya
mungkin karena terus-menerus menunggu,
tanpa tahu kapan bisa berhenti
atau mungkin,
karena tetap menulis tentangmu
lagi,
lagi,
lagi,
tanpa peduli apakah tulisan ini
dapat meracuni diriku sendiri
atau tidak
Dan pada rintik hujan kesekian,
Aku ingin Kau suatu hari terjaga dari tidurmu
lalu membaca kata demi kata
yang ku tuliskan pada pagi yang dingin,
dan membuatmu menyadari,
bahwa Kau pernah begitu disayangi dalam diam,
Jauh,
dan amat sangat dalam,
oleh Aku yang dengan sepenuh hati
menuangkan rasa padamu
yang terlebih dahulu menguap
sesaat sebelum Kau menyadarinya
ya,
menguap,
menjadi udara yang bisa Kau hirup
untuk membuatmu tetap hidup,
dan bernafas dengan baik
/bellavir/
Comments
Post a Comment