#STORYTIME-Hadiah Simpanan Tuhan

Saya percaya pada ungkapan yang mengatakan bahwa:
"Sesungguhnya Tuhan akan menghadiahkan hal baik, mengejutkanmu, dan membuatmu menangis tak percaya setelah manusia-manusia di sekitarmu, menjatuhkanmu". 
Saya percaya, yang entah bagaimana caranya, amat sangat mempercayainya.


Setelah menjalani bulan-bulan yang menyakiti; Oktober, November, dan yang sekarang hampir Saya lewati, Desember, Saya jauh sekali merasa lebih hidup. Dan lucu, ketika menyadari bahwa orang-orang pada masa lalu (akhir-akhir tahun ini) ternyata tidaklah memiliki dampak buruk apapun untuk Saya, sebagaimana apa yang sesungguhnya mereka lakukan.



Mengapa?



Karena Saya memilih melanjutkan hidup, keluar dari cangkang keterpurukan, memahami, memaafkan, dan kemudian memutuskan untuk mengambil hal baik dan menyimpan Mereka pada tempatnya, mengubur, lalu berjalan menjauh dengan hati yang riang.




Menyenangkan.




Saya menyadari, astaga, Saya masih sangat muda, dan masih banyak sekali hal yang bisa Saya lakukan. Bersyukur sekali Tuhan meluaskan pandangan Saya mengenai banyak hal. Saya melihat hal-hal kecil lainnya yang jarang sekali terpikirkan atau bahkan dipedulikan orang lain. Saya mampu melihat segala sesuatunya dari sisi yang berbeda, menukar pikiran yang dianggap tidak baik menjadi sesuatu yang pantas untuk dipikirkan.


Dan semua pandangan-pandangan tersebut mampu Saya lihat setelah Seseorang, sengaja atau tidak, menyakiti Saya.




Ditinggalkan. Dikhianati. Diacuhkan. Dibohongi. Digantungkan. Semuanya.




Patah hati, menjadi kekuatan baru bagi orang yang pikirannya diluaskan. Sesaat setelah disakiti, orang-orang tersebut biasanya tidak akan (langsung) menangis. Mereka cenderung akan diam, berusaha memahami kondisi yang sedang terjadi, mencari titik masalah, dan secara sadar mampu mengendalikan emosi dan ego di dalam diri Mereka dan memilih untuk berpikir secara lurus.




Saya adalah salah satunya, dan memang begitulah Kita semestinya.




Sejak diakhirinya bulan Oktober hingga sekarang, beserta dengan kisah-kisah di dalamnya, membuat Saya hampir merasa tidak ingin lagi menaruh percaya pada siapapun yang bergerak mendekat. Saya pernah mengakatan kepada seorang teman bahwa Saya pikir perasaan Saya sudah habis, mengering, terkuras. Lalu ketika Saya memutuskan untuk membuka hati kembali, menaruh harapan dan kembali mempercayai seseorang, namun, lagi-lagi Ia pergi.



Datang. Berbincang. lalu berjalan keluar pintu tanpa menoleh. Bahkan sebelum Saya sempat berkata "Iya".



Kalian kira Saya ini apa? Pelarian? Tempat bersinggah? Apa?


Apa yang sebenarnya terlintas di pikiran orang-orang seperti itu?


Kalau sudah seperti ini, apa yang selanjutnya bisa Kita lakukan?



Sayang,
Jangan mau menjadi seseorang yang tunduk akan Mereka yang tidak memiliki peran jelas dalam hidup Kita.


Saya seringkali bertanya  kepada diri sendiri seperti ini setiap kali dikecewakan: Siapa Dia? Punyakah Dia pengaruh untuk Saya? untuk masa depan Saya yang bahkan belum Saya ketahui bagaimana?


Dan boom. Seketika setelahnya, hati Saya menjadi putih dan keras. Putih karena memahami, mengikhlaskan, memaafkan, dan keras karena merasa kuat setelah menyadari: Dia yang pergi, tidak ada gunanya.



Saya mungkin hanya mengalami rasa sakit hati kecil, dan semua ini Saya jadikan pelajaran untuk menambah kekuatan Saya dalam menghadapi dan mengatasi sesuatu di luar dugaan. Suatu saat, ketika Saya tumbuh lebih dewasa, Saya mungkin saja mendapatkan patah hati yang rasanya jauh melebihi apa yang pernah Saya rasakan (Tuhan, tolong jangan), tapi, siapa tahu?


Dan teruntuk siapapun di luar sana yang sedikit banyak merasakan hal yang sama, dengar, begini saja. Mereka yang sudah pergi, adalah orang-orang yang memang di hadirkan Tuhan untuk itu. Mengajarkanmu sesuatu, menyadarkanmu tentang hal-hal yang selama ini tidak Kau sadari, dll. Ketika Mereka pergi, bersyukurlah, artinya bukan orang seperti itu yang akan menghabiskan hidupnya bersamamu. Sadari bahwa ada seseorang di luar sana, entah jauh atau dekat, sedang belajar dengan baik, menuntut ilmu setinggi tingginya, bekerja, berusaha, untuk kemudian datang dan menemuimu.




Akan ada yang datang, dengan segala sesuatu yang telah Ia siapkan, untuk hidup bersenang-senang bersamamu, di sisa-sisa waktu hidupnya.






Hadiah yang Tuhan simpan untukmu, untuk Saya, untuk Kita semua.







Mari bersabar sembari memperbaiki diri,




dan bersenang-senanglah.






/bellavir/

Comments

  1. Ketika seseorang datang kepadamu, membuatmu nyaman hingga kamu mempercayainya, lalu seketika ia pergi begitu saja, tentu ada sebab yang membuat semua itu terjadi. Pertanyaannya adalah, pernahkah kamu menyadari bahwa penyebab sebenarnya ada pada dirimu?

    Tulisanmu memang sangat bijaksana. Tetapi apakah sikapmu sebijaksana tulisanmu? Apakah sikapmu kepada mereka yang datang kepadamu, sudah sebijaksana tulisanmu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Mungkin Saya yang kurang baik untuk mereka, mungkin kesalahan ada pada Saya, tapi di sisi lain, ada hal-hal yang tidak kamu ketahui dalam cerita yang Saya tulis.

      Tujuan Saya menulis ini adalah berbagi. Berbagi cerita dan pandangan Saya mengenai hal tersebut. Membuka pikiran kepada yang pernah ditinggalkan untuk tidak menutup pandangannya setelah mengalami hal serupa. Dan, Saya tidak menyalahkan mereka yang pergi, justru merekalah yang mengajarkan saya banyak hal.

      Terimakasih sudah membuat Saya kembali berkaca melalui komentar kamu. Terimakasih sudah membaca, have a nice day. :)

      Delete

Post a Comment

Popular Posts