#LittleMessage - Terhenti di Sini

Ketika yang selama ini Kau yakini akan tetap tinggal telah pergi, biarkan.

Ketika setiap susunan kata yang merangkai sebuah kalimat manis untukmu dileburkan menjadi angan, biarkan saja.

Dan semua gambaran masa depan yang telah Kau bayangkan berhembus menghilang, sudahi saja sampai di sini.

Karena tidak ada lagi alasanmu untuk melangkah maju.

Tidak perlu lagi Kau bersusah payah sendiri ketika Ia memutuskan untuk berhenti.

Kau bahkan masih ingat ketika segalanya bermulai.

Suatu kebetulan, yang entah bagaimana Kau percayai, bahwa ini bukan kebetulan yang tidak memiliki arti.

Suatu hari ketika Kau berkemas dan mempersiapkan diri menuju kedewasaanmu, Dia sudah ada di belahan dunia lain untuk menunggu.

Kau ingat ketika hari pertamamu di sana, dan Kau bahkan masih ingat rasa gelisah saat menunggunya yang berjanji untuk datang menemuimu.

Tapi waktu tidak memihak padamu pada hari itu.

Tujuh hari setelahnya, Kau merasa lelah.

Merasa bahwa Dia mempermainkanmu. Berkata ini itu namun tak juga kunjung datang.

Saat itu Kau masih belum mengerti apa yang penting untuknya.

Kau merasa bahwa kunjungan-kunjunganmu selama tujuh hari itu terbuang sia-sia.

Lalu Dia bilang padamu bahwa Kalian masih memiliki waktu empat tahun. 

Selama itu.

Kalian masih memiliki banyak waktu. 

Dan begitulah kira-kira ucapan penenang darinya kepadamu.

Hingga pada suatu hari, 

Ia datang,

Dan segala yang ada pada dirinya mulai Kau nikmati,

Menangkapmu,

Mengikat,

Membuatmu merasa bahwa Kau tidak perlu kemana-mana lagi untuk mencari tempat bernaung.

Karena dia hadir, dan segalanya terasa cukup.

Hari demi hari terlewati setelahnya,

Ia mampu mempertahankanmu melambung ke atas langit.

Kemudian Kau sampai lagi pada hari yang lainnya,

Ketika semua terasa buram,

Dan Dia berada di sisi lain tanpa Kau ketahui keadaannya

yang Kau tahu hanyalah Ia sedang berada pada situasi yang tidak baik.

Apa yang Kau lakukan?

Apa yang bisa seorang "Kau" lakukan?

Bodoh.

Tidak ada.

Hanya Doa yang Kau titipkan melalui Tuhan,

dan puisi-puisi tak berarti milikmu yang Kau tulis untuknya,

Lalu berharap rasa sayangmu sampai padanya

Kau kira Ia tahu?

Bodoh.

Tidak tahu. Dia tidak tahu,

Namun suatu malam, Ia bersedia datang lagi setelah sekian lama

Kau berusaha menikmatinya dibalik kekhawatiranmu yang menyelimuti

Sampai akhirnya,

Kau menyerah.

Menangis.

Di hadapannya.

Hanya maaf yang mampu Kau katakan atas ketidakmampuanmu hadir untuknya.

Bodoh.

Kau kira dia membutuhkanmu?

Tidak.

Dan tawa kecil dari mulutmu saat itu, menyadari bahwa menangis di hadapannya adalah hal yang tidak benar.

Lalu Kau dan Dia beranjak pulang,

Sampai sesuatu menghajarmu dan Dia dengan keras dari sisi belakang.

Namun Kau tetap hidup. 

Mengapa? Mengapa harus jika akan berakhir seperti ini?

Kemudian sejak malam itu dan setelahnya,

Kau semakin tidak mengerti apakah itu merupakan mimpi buruk atau mimpi indah untukmu.

Ia menyayangimu.

Kau bahkan berani bersumpah bahwa yang Ia katakan itu benar-benar terasa nyata dan memiliki arti.

Bodoh.

Kau kira Ia sungguh-sungguh?

Tidak.

Tidak, bodoh. Dia tidak sungguh-sungguh memaknainya.

Wajah pucatnya saat itu hanya keterkejutan, bukan kekhawatiran.


Astaga.

Apa yang Kau harapkan?


Kini Ia sudah pergi.

Bahkan ketika Kau belum mempersiapkan hati untuk itu.

Bahkan ketika Kau belum tahu bagaimana jika Kau lanjutkan semua ini tanpanya?

Tapi sudah,

Sudah tak perlu lagi Kau cari.

Sudak tak perlu lagi Kau tunggu kehadirannya.

Tidak usah lagi Kau mengemis apapun darinya.

Sudah cukup.

Mari berusaha lagi

Mari sedikit demi sedikit mengubur hari kemarin dalam-dalam agar tidak menyakitimu.

Dunia ini jahat, tak akan peduli seberapapun Kau menahannya, jika waktumu selesai, segalanya akan terhenti tanpa memberitahu.

Sayang sekali, itu artinya Kau juga harus berhenti walau Kau tak mau.

Ucapkan terimakasih padanya,

yang mungkin ada benarnya, bahwa Ia hadir bukan sebuah kebetulan belaka

Ia ada, untuk mengajarimu banyak hal

dan Kau sudah mendapatkan segala yang harus Kau pelajari

Jam pelajaran sudah usai, sayang. Sudah selesai.

Mungkin untuk inilah mengapa sedari awal Ia tak bermaksud mengikatmu,

agar rasanya akan jauh lebih mudah

walau mungkin sebenarnya Kau tetap tidak mampu,

Tapi Kau bisa,

Sungguh Kau bisa berjalan lagi ke arah lain tanpanya.

Ayolah,

Kau sudah cukup dewasa untuk patah hati seperti ini.

Sudah selesai,



Waktumu sudah habis.





/bellavir/

Comments

Popular Posts