#STORYTIME Yang Tidak Pernah Hilang
Suatu hari akan tiba masanya kita, pada akhirnya, mampu mengerti mengenai sesuatu yang selama ini begitu rumit untuk dipahami.
Akan ada saatnya,
Kita, akhirnya, merasa jauh lebih hidup dari hari kemarin.
Hari ini begitu baik untuk saya.
Let me tell you what (who) made my day, today.
So I went to the Hospital today.
Untuk menjenguk......siapa yang harus saya bilang?
He's undescribable.
Saya tidak bisa menjelaskan. Except with my soft-beautiful-written-words.
Dia hanya bisa dijelaskan dengan itu.
Beberapa tulisan sebelum ini adalah untuknya.
Bukan untuknya, tapi miliknya.
If you don't mind to read some of them, you gonna get what I mean beautiful.
He's truly beautiful.
Even after all these years, after being separated, or even from the last time I saw him on July 22nd last year, dia masih sama.
Because sometimes you have to be apart from people you love, but that doesn’t make you love them any less.
Sometimes you love them more.
Saya datang dengan pikiran kacau seperti biasa, memikirkan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi beberapa menit kemudian.
Saya datang bersama seorang teman,
Dengan tujuan agar segalanya bisa lebih mudah.
But it wasn't easier at all.
Sebenarnya, segalanya masih begitu sulit untuk saya bertemu lagi. Tapi tanpa teman saya, C, it wouldn't be happened. I would never be this happy.
Perjalanan kesana cukup melelahkan. Bahkan ketika sudah sampai pun saya masih harus menghadapi masalah masalah kecil.
Haha, tapi tidak apa apa, because I know it's gonna be worth it.
He's so Goddamn worth it.
Beberapa jam saya menunggu di waiting room. (Masih) tidak bisa masuk ke ruangannya karena, perawat bilang, masih banyak tamu yang berkunjung.
Jadi saya menunggu.
Berusaha berbincang dengan teman untuk mengalihkan saya dari pikiran pikiran yang membuat saya gugup.
Rasa gugup paling menyenangkan sejauh ini.
Sayang, tidak pada tempat dan suasana yang baik.
Egois tidak sih? Merasa senang saat menjenguk orang sakit?
Saya masih punya waktu sedikit lagi untuk merangkai kata, untuk menghadapi berbagai kemungkinan.
Apa yang harus saya katakan pertama kali?
Apa yang boleh dan tidak boleh saya katakan dan lakukan nanti?
Bagaimana jika saya bertemu ibunya?
Apa dia akan suka jika saya datang?
Akhirnya, setelah sekian lama, saya masuk ke ruangannya.
I saw him.
His hair is getting longer, I guess.
Kaos biru navy.
Celana pendek.
Tangan kiri yang terinfus.
Sedih, karena harus bertemu disaat keadaannya sedang tidak baik.
Senang, karena...finally.
My shaun.
Selama kurang lebih satu jam saya disana. Bicara hal hal diluar apa yang seharusnya saya katakan.
Bicara hal hal umum yang sebenarnya bukan itu yang saya ingin Ia dengar.
Time flies so fast, dia mungkin harus beristirahat, dan saya sudah harus pulang.
Percaya atau tidak, saya tidak ingin pulang.
Setiap kali menghabiskan waktu bersama, saya tidak pernah ingin pulang.
Jadi saya pamit,
keluar ruangan dengan canggung,
Kemudian berjalan perlahan.
Penyesalan lagi.
Saya mengutuk diri sendiri karena sering kali menyianyiakan sesuatu.
Terutama waktu yang saya buang begitu saja.
Dan tidak bisa di kembalikan.
Shaun,
Yang selalu punya tempat di hidup saya entah bagaimana itu bisa terjadi.
Yang tawanya selalu mampu membuat saya tertawa juga.
Yang paling sederhana,
Yang mampu membuat kesederhanaannya begitu terasa cukup untuk saya.
Yang kadang, kerap kali membuat saya egois, tidak ingin orang lain menyentuhnya.
Yang tidak perlu saya miliki secara nyata, karena saya percaya, saya sudah memilikinya sejak lama.
Yang begitu berarti untuk saya, dari tahun tahun yang lalu, sekarang, dan entah sampai kapan.
Saya tidak ingin tahu apa yang Ia pikirkan tentang saya.
Saya tidak tahu, dan tidak ingin tahu.
Mungkin saya terlalu takut untuk itu, tapi untuk saat ini, saya rasa begitu lebih baik.
Saya ingin menyayangi dengan bebas dalam diam.
Dengan begitu, saya lebih mampu menyimpan segala sesuatunya lebih baik.
Saya, dan dia, akan jatuh cinta lagi setelah ini.
Bukan,
Tapi saya dengan orang lain,
dan dia dengan yang lainnya.
Saya dan dia, akan belajar lagi setelah ini.
Saya ingat dia pernah mengatakan bahwa Ia jatuh pada mata seseorang.
Dan dia akan jatuh cinta lagi pada mata yang lain setelah ini.
Tidak apa apa,
Semoga itu baik untuknya.
Karena mata saya tidak memiliki apapun untuk menjadikan orang lain bisa menyukainya.
Tidak satupun dari saya dapat disukai.
Semoga yang terbaik selalu ada dipihaknya.
Semoga apa yang Ia cita citakan dapat dengan mudah Ia dapatkan.
Semoga Ia selalu dilindungi dari apapun yang membahayakan.
Semoga saya masih diizinkan menyayanginya setelah ini.
Semoga cepat sembuh, A.
Just promise me you gonna be fine.
Wherever you go, you always have me to go home, to stay, or just have a rest.
You always have me.
Keep making yourself happy in your way, okay? See ya.
/bellavir/
Akan ada saatnya,
Kita, akhirnya, merasa jauh lebih hidup dari hari kemarin.
Hari ini begitu baik untuk saya.
Let me tell you what (who) made my day, today.
So I went to the Hospital today.
Untuk menjenguk......siapa yang harus saya bilang?
He's undescribable.
Saya tidak bisa menjelaskan. Except with my soft-beautiful-written-words.
Dia hanya bisa dijelaskan dengan itu.
Beberapa tulisan sebelum ini adalah untuknya.
Bukan untuknya, tapi miliknya.
If you don't mind to read some of them, you gonna get what I mean beautiful.
He's truly beautiful.
Even after all these years, after being separated, or even from the last time I saw him on July 22nd last year, dia masih sama.
Because sometimes you have to be apart from people you love, but that doesn’t make you love them any less.
Sometimes you love them more.
Saya datang dengan pikiran kacau seperti biasa, memikirkan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi beberapa menit kemudian.
Saya datang bersama seorang teman,
Dengan tujuan agar segalanya bisa lebih mudah.
But it wasn't easier at all.
Sebenarnya, segalanya masih begitu sulit untuk saya bertemu lagi. Tapi tanpa teman saya, C, it wouldn't be happened. I would never be this happy.
Perjalanan kesana cukup melelahkan. Bahkan ketika sudah sampai pun saya masih harus menghadapi masalah masalah kecil.
Haha, tapi tidak apa apa, because I know it's gonna be worth it.
He's so Goddamn worth it.
Beberapa jam saya menunggu di waiting room. (Masih) tidak bisa masuk ke ruangannya karena, perawat bilang, masih banyak tamu yang berkunjung.
Jadi saya menunggu.
Berusaha berbincang dengan teman untuk mengalihkan saya dari pikiran pikiran yang membuat saya gugup.
Rasa gugup paling menyenangkan sejauh ini.
Sayang, tidak pada tempat dan suasana yang baik.
Egois tidak sih? Merasa senang saat menjenguk orang sakit?
Saya masih punya waktu sedikit lagi untuk merangkai kata, untuk menghadapi berbagai kemungkinan.
Apa yang harus saya katakan pertama kali?
Apa yang boleh dan tidak boleh saya katakan dan lakukan nanti?
Bagaimana jika saya bertemu ibunya?
Apa dia akan suka jika saya datang?
Akhirnya, setelah sekian lama, saya masuk ke ruangannya.
I saw him.
His hair is getting longer, I guess.
Kaos biru navy.
Celana pendek.
Tangan kiri yang terinfus.
Sedih, karena harus bertemu disaat keadaannya sedang tidak baik.
Senang, karena...finally.
My shaun.
Selama kurang lebih satu jam saya disana. Bicara hal hal diluar apa yang seharusnya saya katakan.
Bicara hal hal umum yang sebenarnya bukan itu yang saya ingin Ia dengar.
Time flies so fast, dia mungkin harus beristirahat, dan saya sudah harus pulang.
Percaya atau tidak, saya tidak ingin pulang.
Setiap kali menghabiskan waktu bersama, saya tidak pernah ingin pulang.
Jadi saya pamit,
keluar ruangan dengan canggung,
Kemudian berjalan perlahan.
Penyesalan lagi.
Saya mengutuk diri sendiri karena sering kali menyianyiakan sesuatu.
Terutama waktu yang saya buang begitu saja.
Dan tidak bisa di kembalikan.
Shaun,
Yang selalu punya tempat di hidup saya entah bagaimana itu bisa terjadi.
Yang tawanya selalu mampu membuat saya tertawa juga.
Yang paling sederhana,
Yang mampu membuat kesederhanaannya begitu terasa cukup untuk saya.
Yang kadang, kerap kali membuat saya egois, tidak ingin orang lain menyentuhnya.
Yang tidak perlu saya miliki secara nyata, karena saya percaya, saya sudah memilikinya sejak lama.
Yang begitu berarti untuk saya, dari tahun tahun yang lalu, sekarang, dan entah sampai kapan.
Saya tidak ingin tahu apa yang Ia pikirkan tentang saya.
Saya tidak tahu, dan tidak ingin tahu.
Mungkin saya terlalu takut untuk itu, tapi untuk saat ini, saya rasa begitu lebih baik.
Saya ingin menyayangi dengan bebas dalam diam.
Dengan begitu, saya lebih mampu menyimpan segala sesuatunya lebih baik.
Saya, dan dia, akan jatuh cinta lagi setelah ini.
Bukan,
Tapi saya dengan orang lain,
dan dia dengan yang lainnya.
Saya dan dia, akan belajar lagi setelah ini.
Saya ingat dia pernah mengatakan bahwa Ia jatuh pada mata seseorang.
Dan dia akan jatuh cinta lagi pada mata yang lain setelah ini.
Tidak apa apa,
Semoga itu baik untuknya.
Karena mata saya tidak memiliki apapun untuk menjadikan orang lain bisa menyukainya.
Tidak satupun dari saya dapat disukai.
Semoga yang terbaik selalu ada dipihaknya.
Semoga apa yang Ia cita citakan dapat dengan mudah Ia dapatkan.
Semoga Ia selalu dilindungi dari apapun yang membahayakan.
Semoga saya masih diizinkan menyayanginya setelah ini.
Semoga cepat sembuh, A.
Just promise me you gonna be fine.
Wherever you go, you always have me to go home, to stay, or just have a rest.
You always have me.
Keep making yourself happy in your way, okay? See ya.
/bellavir/
Comments
Post a Comment