#STORYTIME Cerita Patah Hati Penulis di Akhir Masa SMA
Jadi secara resmi blog ini isinya tidak lagi puisi-puisian aja.
Tapi bisa juga curhatan pribadi.
Kebetulan hari ini sedang niat sekali buat nulis dan ada hal-hal yang ingin saya bagi, semoga ada yang bisa diambil baiknya.
Saya mau bicara sedikit soal patah hati.
Iya, patah hati.
Patah hati, adalah ungkapan rasa sakit yang kita rasakan saat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Melihat sesuatu,
Mendengar sesuatu,
Mengetahui sesuatu,
Atau mengalami sesuatu.
Patah hati terburuk, adalah pada saat kita hampir benar benar dapat merasakan "patah" itu sendiri.
Patah, dalam arti yang sesungguhnya.
Tolong hilangkan pikiran bahwa patah hati hanya berlaku saat kekasihmu yang pergi. Berkhianat. Atau apapun disebutnya.
Pembodohan.
Karena patah hati sesungguhnya, adalah ketika kita merasakan kedua kaki seperti tidak mampu lagi menopang tubuh,
Atau ketika hati terasa begitu berat seakan tertarik kebawah, bergantung di ulu hati dan jatuh ke tanah.
Teman, keluarga, atau entah siapapun, atau apapun, dapat menyebabkan patah hati.
Saya baru saja patah hati.
Saya mengalami minggu yang buruk sampai hampir, rasanya, ingin menyerah saja.
Begini kejadiannya.
Jadi, beberapa bulan lalu saya mulai dekat dengan seseorang. Untuk menjaga nama baik, sebut aja namanya Rangga. (Karena rangga lagi hits saat ini).
Rangga baik, lucu, apa adanya. Singkat cerita, kita menghabiskan waktu bersama scara terus menerus, sampai orang mengira kita pacaran. Padahal tidak.
Tapi saya berharap iya.
Sekitar 4 bulan begitu begitu saja. Tidak ada acara tembak menembak tapi semuanya berjalan baik selama 3 bulan. Setidaknya saya berpikir begitu.
Di bulan ke 4, sudah masuk bulan kucing dan anjing. Hampir tiap hari ada saja yang diributkan. Sifat Rangga semakin terlihat, semakin keluar. Pemarah, sensitif dan kasar.
Begitu terus.
Sampai suatu hari kita bertengkar hebat. Hebat sekali sampai dia pergi entah kemana. Hebat sampai saya memutuskan pergi ke rumahnya yang jauh, membawakan kue sebagai permintaan maaf, dan ditambah lagi, hujan.
Tapi lagi. Hari hari setelahnya memang berjalan baik, tapi yang tidak saya duga, dia malah ingin semuanya di akhiri saja.
11 hari setelah saya berulang tahun ke 18.
Alasan kenapa Rangga menyudahi semuanya, mungkin bisa saya ceritakan lain kali, sekarang, bukan itu yang penting.
Hari-hari selanjutnya saya jalani dengan perasaan kosong. Bingung. Masih tidak bisa mengerti dimana salah saya. Kenapa harus begini. Kenapa harus begitu.
Di setiap pertengkaran, saya yang selalu meminta dia bertahan sedikit lagi.
Sedikit lagi.
Setidaknya, sampai bulan Mei.
Mei adalah bulan perpisahan sekolah kami.
Maksud saya, kalau saja dia ingin selesai, tunggulah sampai hari itu tiba.
Karena saya ingin prom night jadi waktu terbaik saya di masa SMA.
But he couldn't wait any longer.
Jadi kita berakhir di bulan maret.
Setelah itu, ternyata, Rangga masih baik. Dia masih menyemangati saya saat ujian nasional. Dia masih berusaha keep in touch. Dia bahkan masih bertanya hal hal seperti ini:
"Prom night pake dress warna apa?" Katanya.
"Biru tua."
"Mau samaan ga? Nanti gue cari dasi biru tua."
Seperti itulah.
Ketika saya pikir semuanya sudah selesai, dia justru membuktikan bahwa sebenernya, he didn't go anywhere.
Tapi diakhir nanti, saya yang lagi, akhirnya, merasa tertipu. Merasa dibodohi.
Kalau tidak salah, itu hal terakhir yang kami perbincangkan sebelum hari H.
Ternyata, secara tibatiba, Prom night nya di majukan jadi akhir bulan April karena berbagai alasan.
Boom.
Ah.
Seandainya Rangga bisa lebih bersabar lagi, dia tidak perlu menunggu sampai bulan Mei.
Jadi tibalah di hari H.
Hari yang akan saya habis kan penuh dengan hati dan pikiran yang tidak sejalan.
Hari yang akan saya habiskan dengan rasa khawatir.
Hari yang seharusnya jadi hari terbaik saya di SMA bersama Rangga.
Hari terakhir di SMA yang akan saya habiskan dengan bersedih dibalik candaan saya bersama teman teman.
Di sepanjang perjalanan ke Bandung (which is menjadi tempat tujuan perpisahan dan prom night malam harinya akan ada disana), yang saya ingat cuma dia.
Saya tipikal orang yang tidak akan buang buang tenaga, seperti yang teman teman saya lakukan, mondar mandir dalam bis, berteriak teriak tidak penting, bernyanyi dengan suara keras, makan, atau hal semacam nya. Jadi saya hanya duduk diam memandang keluar jendela.
Rangga ada di bis yang berbeda.
Duduk di kursi paling belakang, paling pojok kanan.
Sama seperti saya.
So we sat at the same seat, in 2 different buses.
Ironis, bukan?
Hari itu lewat begitu saja tanpa saya nikmati. Saya ingin. Mungkin sedikit, tapi tidak banyak seperti yang seharusnya.
Sampai waktunya prom night tiba.
Saya naik ke lantai 3 hotel (Ballroom tempat promnight kami ada di sana, sementara kami semua tidur di kamar kamar lantai 1). Saya adalah ketua panitia saat itu, jadi saya harus berada di sana lebih dulu dari teman teman di luar panitia.
Rangga adalah salah satunya.
Jadi dia sudah disana.
Seandainya saya bisa berbagi foto dirinya saat itu disini, I would.
Dia berada pada dirinya yang paling baik saat itu.
Rapi.
Bersih.
Rambutnya yang sudah sedikit memanjang disisir rapi.
Berjas dan celana hitam.
Sepatu pantofel.
Dasi hitam bermotif.
Iya, bukan dasi berwarna biru.
Rangga duduk sendiri di luar ballroom, tenggelam dalam telepon genggamnya.
Saya yang baru datang sempat berhenti di ujung koridor yang sepi. Menaruh perhatian penuh pada Rangga. Seseorang yang seharusnya bersama saya sepanjang hari ini. Memperhatikan dia, berusaha mengumpulkan memori tentang dia sebanyak banyaknya.
Lalu dia menoleh, dan saya berpaling.
Begitu terus setiap kali kita bertatap mata dengan tidak sengaja.
Selama prom night berlangsung, sekali dua kali memang saya berkomunikasi dengan rangga. Tentunya karena sama sama berusaha saling bersikap profesional. Tapi ya, hanya sekedar itu.
Prom night selesai.
Selanjutnya diisi dengan foto foto bersama. Semua teman teman saya heboh kesana kemari, saling berfoto bersama untuk kenang kenangan terakhir dalam balutan busana terbaik mereka malam itu.
Rangga juga, bersama teman teman sekumpulannya.
Tapi saya tidak.
Saya duduk di sisi kiri ballroom bersama mas chandra (kalau tidak salah), si operator acara sekolah kami.
Saya duduk diam, merasa jauh lebih baik daripada harus kesana kemari. Tidak ada keinginan sama sekali untuk berfoto atau berkumpul dengan yang lain.
Saya duduk, berkalungkan selempang hitam bertuliskan "PROM NIGHT QUEEN 2016".
Ya,
Saya adalah Prom Night Queen yang sedih.
Sesekali memperhatikan teman teman yang tertawa tawa senang, namun lebih sering menaruh mata pada Rangga.
Saya stay disana sampai ballroom sepi sekali. Tinggal beberapa karyawan hotel, karyawan sekolah kami, dan sekumpulan teman teman laki laki saya termasuk Rangga. Too sad to go anywhere. Saya sedih sekali saat itu, sampai saya tidak bisa lagi mendeskripsikannya lebih baik dari ini.
Saya menunggu sesuatu terjadi. Entah dia yang mengajak bicara, entah basa basi seperti apapun pasti berarti sekali untuk saya.
Tapi itu tidak terjadi. Tidak terjadi apa apa.
Lalu setelah itu, saya menyerah.
Saya melepaskan heels yang saya pakai waktu itu lalu berjalan keluar ballroom.
Saya yakin 100 persen dia pasti melihat saya.
But I didn't look back.
It's just over.
Saya meninggalkan semua yang tersisa malam itu di sana, di ballroom itu.
Sisa perjalanan saya keesokan harinya masih terasa berat akibat semalam. Sampai perjalanan pulang ke sekolah pun saya masih berdoa agar diizinkan sekali lagi bertemu rangga.
Dikabulkan.
Sampai sekolah, turun dari bis, ternyata Ayah saya sudah menjemput.
Malam itu gelap sekali, lampu sekolah tidak banyak yang di nyalakan sehingga saya tidak bisa melihat wajah orang lain dengan jelas.
Saya tau rangga disana. Bahkan saya berjalan melewatinya. I know he was there.
Tapi saya harus pulang.
Sebelum saya masuk ke mobil, saya menoleh sekali lagi.
I don't know but I'm sure he was looking at me.
Tapi ya sudah.
There's no final goodbye. Tidak ada apa apa lagi setelah itu.
Sedih,
Seharusnya kita bisa duduk bersama selama perjalanan ke Bandung.
Seharusnya bisa jalan jalan beriringan sepanjang ciampelas.
Seharusnya dia bisa jadi pasangan promnight saya.
Seharusnya kita bisa duduk di satu meja yang sama.
Sedih,
Seharusnya tidak seperti ini akhirnya.
Dan saya tidak pernah sepatah hati itu sebelumnya.
Sebetulnya banyak moment saya dan Rangga yang sengaja saya skip karena tidak penting untuk di ceritakan dan tidak berpengaruh pada inti cerita sehingga tidak saya sebutkan.
Jadi, seperti itulah kira kira.
Saya menutup masa SMA saya dengan ikhlas, tulus, dan patah hati.
Rangga, yang tentunya bukan nama sebenernya, adalah the one who i love the most in my last year of highschool.
Selesai.
/bellavir/
Tapi bisa juga curhatan pribadi.
Kebetulan hari ini sedang niat sekali buat nulis dan ada hal-hal yang ingin saya bagi, semoga ada yang bisa diambil baiknya.
Saya mau bicara sedikit soal patah hati.
Iya, patah hati.
Patah hati, adalah ungkapan rasa sakit yang kita rasakan saat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Melihat sesuatu,
Mendengar sesuatu,
Mengetahui sesuatu,
Atau mengalami sesuatu.
Patah hati terburuk, adalah pada saat kita hampir benar benar dapat merasakan "patah" itu sendiri.
Patah, dalam arti yang sesungguhnya.
Tolong hilangkan pikiran bahwa patah hati hanya berlaku saat kekasihmu yang pergi. Berkhianat. Atau apapun disebutnya.
Pembodohan.
Karena patah hati sesungguhnya, adalah ketika kita merasakan kedua kaki seperti tidak mampu lagi menopang tubuh,
Atau ketika hati terasa begitu berat seakan tertarik kebawah, bergantung di ulu hati dan jatuh ke tanah.
Teman, keluarga, atau entah siapapun, atau apapun, dapat menyebabkan patah hati.
Saya baru saja patah hati.
Saya mengalami minggu yang buruk sampai hampir, rasanya, ingin menyerah saja.
Begini kejadiannya.
Jadi, beberapa bulan lalu saya mulai dekat dengan seseorang. Untuk menjaga nama baik, sebut aja namanya Rangga. (Karena rangga lagi hits saat ini).
Rangga baik, lucu, apa adanya. Singkat cerita, kita menghabiskan waktu bersama scara terus menerus, sampai orang mengira kita pacaran. Padahal tidak.
Tapi saya berharap iya.
Sekitar 4 bulan begitu begitu saja. Tidak ada acara tembak menembak tapi semuanya berjalan baik selama 3 bulan. Setidaknya saya berpikir begitu.
Di bulan ke 4, sudah masuk bulan kucing dan anjing. Hampir tiap hari ada saja yang diributkan. Sifat Rangga semakin terlihat, semakin keluar. Pemarah, sensitif dan kasar.
Begitu terus.
Sampai suatu hari kita bertengkar hebat. Hebat sekali sampai dia pergi entah kemana. Hebat sampai saya memutuskan pergi ke rumahnya yang jauh, membawakan kue sebagai permintaan maaf, dan ditambah lagi, hujan.
Tapi lagi. Hari hari setelahnya memang berjalan baik, tapi yang tidak saya duga, dia malah ingin semuanya di akhiri saja.
11 hari setelah saya berulang tahun ke 18.
Alasan kenapa Rangga menyudahi semuanya, mungkin bisa saya ceritakan lain kali, sekarang, bukan itu yang penting.
Hari-hari selanjutnya saya jalani dengan perasaan kosong. Bingung. Masih tidak bisa mengerti dimana salah saya. Kenapa harus begini. Kenapa harus begitu.
Di setiap pertengkaran, saya yang selalu meminta dia bertahan sedikit lagi.
Sedikit lagi.
Setidaknya, sampai bulan Mei.
Mei adalah bulan perpisahan sekolah kami.
Maksud saya, kalau saja dia ingin selesai, tunggulah sampai hari itu tiba.
Karena saya ingin prom night jadi waktu terbaik saya di masa SMA.
But he couldn't wait any longer.
Jadi kita berakhir di bulan maret.
Setelah itu, ternyata, Rangga masih baik. Dia masih menyemangati saya saat ujian nasional. Dia masih berusaha keep in touch. Dia bahkan masih bertanya hal hal seperti ini:
"Prom night pake dress warna apa?" Katanya.
"Biru tua."
"Mau samaan ga? Nanti gue cari dasi biru tua."
Seperti itulah.
Ketika saya pikir semuanya sudah selesai, dia justru membuktikan bahwa sebenernya, he didn't go anywhere.
Tapi diakhir nanti, saya yang lagi, akhirnya, merasa tertipu. Merasa dibodohi.
Kalau tidak salah, itu hal terakhir yang kami perbincangkan sebelum hari H.
Ternyata, secara tibatiba, Prom night nya di majukan jadi akhir bulan April karena berbagai alasan.
Boom.
Ah.
Seandainya Rangga bisa lebih bersabar lagi, dia tidak perlu menunggu sampai bulan Mei.
Jadi tibalah di hari H.
Hari yang akan saya habis kan penuh dengan hati dan pikiran yang tidak sejalan.
Hari yang akan saya habiskan dengan rasa khawatir.
Hari yang seharusnya jadi hari terbaik saya di SMA bersama Rangga.
Hari terakhir di SMA yang akan saya habiskan dengan bersedih dibalik candaan saya bersama teman teman.
Di sepanjang perjalanan ke Bandung (which is menjadi tempat tujuan perpisahan dan prom night malam harinya akan ada disana), yang saya ingat cuma dia.
Saya tipikal orang yang tidak akan buang buang tenaga, seperti yang teman teman saya lakukan, mondar mandir dalam bis, berteriak teriak tidak penting, bernyanyi dengan suara keras, makan, atau hal semacam nya. Jadi saya hanya duduk diam memandang keluar jendela.
Rangga ada di bis yang berbeda.
Duduk di kursi paling belakang, paling pojok kanan.
Sama seperti saya.
So we sat at the same seat, in 2 different buses.
Ironis, bukan?
Hari itu lewat begitu saja tanpa saya nikmati. Saya ingin. Mungkin sedikit, tapi tidak banyak seperti yang seharusnya.
Sampai waktunya prom night tiba.
Saya naik ke lantai 3 hotel (Ballroom tempat promnight kami ada di sana, sementara kami semua tidur di kamar kamar lantai 1). Saya adalah ketua panitia saat itu, jadi saya harus berada di sana lebih dulu dari teman teman di luar panitia.
Rangga adalah salah satunya.
Jadi dia sudah disana.
Seandainya saya bisa berbagi foto dirinya saat itu disini, I would.
Dia berada pada dirinya yang paling baik saat itu.
Rapi.
Bersih.
Rambutnya yang sudah sedikit memanjang disisir rapi.
Berjas dan celana hitam.
Sepatu pantofel.
Dasi hitam bermotif.
Iya, bukan dasi berwarna biru.
Rangga duduk sendiri di luar ballroom, tenggelam dalam telepon genggamnya.
Saya yang baru datang sempat berhenti di ujung koridor yang sepi. Menaruh perhatian penuh pada Rangga. Seseorang yang seharusnya bersama saya sepanjang hari ini. Memperhatikan dia, berusaha mengumpulkan memori tentang dia sebanyak banyaknya.
Lalu dia menoleh, dan saya berpaling.
Begitu terus setiap kali kita bertatap mata dengan tidak sengaja.
Selama prom night berlangsung, sekali dua kali memang saya berkomunikasi dengan rangga. Tentunya karena sama sama berusaha saling bersikap profesional. Tapi ya, hanya sekedar itu.
Prom night selesai.
Selanjutnya diisi dengan foto foto bersama. Semua teman teman saya heboh kesana kemari, saling berfoto bersama untuk kenang kenangan terakhir dalam balutan busana terbaik mereka malam itu.
Rangga juga, bersama teman teman sekumpulannya.
Tapi saya tidak.
Saya duduk di sisi kiri ballroom bersama mas chandra (kalau tidak salah), si operator acara sekolah kami.
Saya duduk diam, merasa jauh lebih baik daripada harus kesana kemari. Tidak ada keinginan sama sekali untuk berfoto atau berkumpul dengan yang lain.
Saya duduk, berkalungkan selempang hitam bertuliskan "PROM NIGHT QUEEN 2016".
Ya,
Saya adalah Prom Night Queen yang sedih.
Sesekali memperhatikan teman teman yang tertawa tawa senang, namun lebih sering menaruh mata pada Rangga.
Saya stay disana sampai ballroom sepi sekali. Tinggal beberapa karyawan hotel, karyawan sekolah kami, dan sekumpulan teman teman laki laki saya termasuk Rangga. Too sad to go anywhere. Saya sedih sekali saat itu, sampai saya tidak bisa lagi mendeskripsikannya lebih baik dari ini.
Saya menunggu sesuatu terjadi. Entah dia yang mengajak bicara, entah basa basi seperti apapun pasti berarti sekali untuk saya.
Tapi itu tidak terjadi. Tidak terjadi apa apa.
Lalu setelah itu, saya menyerah.
Saya melepaskan heels yang saya pakai waktu itu lalu berjalan keluar ballroom.
Saya yakin 100 persen dia pasti melihat saya.
But I didn't look back.
It's just over.
Saya meninggalkan semua yang tersisa malam itu di sana, di ballroom itu.
Sisa perjalanan saya keesokan harinya masih terasa berat akibat semalam. Sampai perjalanan pulang ke sekolah pun saya masih berdoa agar diizinkan sekali lagi bertemu rangga.
Dikabulkan.
Sampai sekolah, turun dari bis, ternyata Ayah saya sudah menjemput.
Malam itu gelap sekali, lampu sekolah tidak banyak yang di nyalakan sehingga saya tidak bisa melihat wajah orang lain dengan jelas.
Saya tau rangga disana. Bahkan saya berjalan melewatinya. I know he was there.
Tapi saya harus pulang.
Sebelum saya masuk ke mobil, saya menoleh sekali lagi.
I don't know but I'm sure he was looking at me.
Tapi ya sudah.
There's no final goodbye. Tidak ada apa apa lagi setelah itu.
Sedih,
Seharusnya kita bisa duduk bersama selama perjalanan ke Bandung.
Seharusnya bisa jalan jalan beriringan sepanjang ciampelas.
Seharusnya dia bisa jadi pasangan promnight saya.
Seharusnya kita bisa duduk di satu meja yang sama.
Sedih,
Seharusnya tidak seperti ini akhirnya.
Dan saya tidak pernah sepatah hati itu sebelumnya.
Sebetulnya banyak moment saya dan Rangga yang sengaja saya skip karena tidak penting untuk di ceritakan dan tidak berpengaruh pada inti cerita sehingga tidak saya sebutkan.
Jadi, seperti itulah kira kira.
Saya menutup masa SMA saya dengan ikhlas, tulus, dan patah hati.
Rangga, yang tentunya bukan nama sebenernya, adalah the one who i love the most in my last year of highschool.
Selesai.
/bellavir/
Hai kak bella aku penggemar berat kamu lhoooo ππ
ReplyDeleteYg sabar ya dalam menghadapi cowokz , jika memang jodoh dia akan kembali lagi kokk
Cemungudhh !!!
Hi sugar! Terimakasi ya it means a lot to me❤❤
DeleteNumpang komen ya π
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteSureπ
Delete