#STORYTIME - Dalam Beberapa Tahun Lagi, begini kira-kira.

Kira-kira begini,


Aku akan selalu menunggu,

Saat dimana hati akan jatuh pada tempatnya.
Ia, akan jatuh pada sosok sederhana yang selama ini aku idamkan.
Seseorang yang senyumnya begitu menenangkan, yang sudah pasti akan kusadari pada perjumpaan yang pertama.
Seseorang, dengan bahu yang kuat namun memiliki gerak tubuh yang lembut, terlebih lagi, saat ia menyentuh hal-hal yang dicintainya―aku, misalnya.
Dia akan berjalan dengan perlahan-lahan ke dalam duniaku, berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan, memastikan bahwa aku merasa aman dan nyaman.
Dia, akan berusaha mengetahui segalanya tentangku, satu persatu, tanpa terburu-buru. 
Dia, akan dengan sabar memahami dan melewati hari tanpa sedikitpun meninggalkanku.
Dia, tentunya akan tetap sibuk dengan pendidikannya, pekerjaannya, keluarganya, hobinya, dan segalah hal yang ia sukai. Tapi, tapi, tentunya, aku akan tetap ada dalam daftar "hal-hal penting" yang harus ia jaga dan pikirkan. Aku, akan selalu ia ingat.


Lalu, waktu akan berjalan cepat atau mungkin bisa juga terasa begitu lambat, tergantung bagaimana aku dan dia menikmatinya. Tapi aku percaya, bagaimana pun nanti, seharusnya hal itu tidaklah begitu penting―selama kami tetap bersama-sama.

Lalu, pasti akan ada malam-malam dimana kami berdua begitu tegang dalam diam. Mungkin salah satu dari kami merasa lelah setelah meluapkan amarah, dan satu yang lainnya menangis mengalah. Mungkin akan ada sangat banyak malam seperti itu, tapi kami tahu―kami akan memahami, bahwa hal ini bukanlah perkara besar, dan kami―pasti―baik-baik saja. Kami akan selalu baik-baik saja.


Suatu hari, aku akan tumbuh lebih dewasa seiring dengan bertambahnya usiaku, dan dia, akan berkembang lebih matang seiring dengan hari-hari yang kami lewati. Hidup semakin menantang dan menekan. Dia akan jatuh, dan aku akan membantunya berdiri, mengelus punggung kuatnya yang kelelahan, membuatkan teh hangat dan mengajaknya bicara. Aku akan hadir di sana, di sampingnya sempanjang malam-malam terpuruknya. Ia akan beristirahat bersamaku, hingga matahari pagi beberapa hari setelahnya mencerahkan kembali dunianya.


Kemudian, aku yang akan berjalan dengan goyah saat menapaki usia dua puluh dua atau dua puluh tiga, Merasa gundah akan hidup yang tak pasti, terkejut dengan dunia orang dewasa yang membingungkan, dan hampir memutuskan untuk menyerah―seperti yang kerap kali kulakukan. Tapi di sanalah dia―selalu―menyiapkan diri mendengar keluh kesah dan kegelisahanku, mengelus kepalaku yang terguncang karena menangis, membiarkan aku meluapkan segalanya satu persatu. Lalu dia akan mendekap. Lalu dia akan menyampaikan pandangan-pandangannya, mengupas satu demi satu lapisan pengetahuanku agar aku dapat memahami hal-hal baru yang kuhadapi. Dia, akan membuka jendela dunia, menunjukanku berbagai macam hal yang tidak kuketahui sebelumnya. Dia akan seperti itu, dan akan selalu seperti itu.


Dan, setelahnya, kami berdua akan tersadar, bahwa kami tidak lagi memiliki alasan untuk berpisah. Tak ada lagi alasan bagi kami untuk tidak bersama. Kami akan memperbaiki diri untuk satu sama lain. Kami akan saling menjaga dan berperan dalam keadaan yang berbeda. Dia akan datang pada suatu sore, menemuiku di suatu tempat yang terbaik―ia akan tahu dimana tempat terbaik untuk melakukannya―lalu memohon padaku untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama. Sesederhana itu.


Kemudian hidup kami setelahnya akan menjadi sangat sibuk. Berbagai macam hal mengharuskan kami untuk menggurusnya. Daftar panjang hal-hal yang harus dilakukan ada pada dekapanku, dan dia akan menyempatkan diri untuk menemani pada akhir pekan. Aku akan marah, dan dia akan diam mengalah. Atau, bisa juga sebaliknya. Kami akan banyak sekali berdebat. Kami akan kembali lelah dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi kali ini, akan sangat begitu menyenangkan. Aku yakin itu.



Dan begitu lah akhirnya,

Kami akan bersiap membuka lembaran hidup ke halaman selanjutnya. Cerita kami akan masuk ke dalam masa yang baru, peran baru, dan suasana baru. Yang tidak berubah, hanyalah rasa kebergantungan satu sama lain, masih menyadari bahwa kami tidak bisa menjalani hari-hari yang tak terduga ini sendirian. Kami akan terbangun sebelum matahari muncul―entah aku atau dia yang terlebih dahulu. Menikmati sarapan bersama, lalu pergi ke tempat yang berbeda setiap pagi, tenggelam dalam dunia kami, mencuri-curi waktu untuk berbincang di telepon genggam, memastikan kami baik-baik saja, bekerja hingga petang, lalu pada akhirnya kembali ke atap yang sama, saat matahari sudah jenuh di atas sana.


Tapi kami tidak.

kami tahu persis kemana kami harus pulang.

Akan tetap ada teh hangat atau kopi, tergantung apa yang akan lebih menenangkan hari-hari kami nanti.

Akan tetap ada perbincangan tentang hari yang kami lewati.

Akan tetap ada makan malam bersama.

kalau pun tidak,

kalau pun aku pulang lebih dulu,

aku akan tetap menunggunya,

aku akan tetap duduk manis menggenggam telepon genggam hingga larut di dalam ruangan, selalu bersiap-siap untuk membukakannya pintu.



Aku. akan tetap menunggu.




Dan bukankah aku selalu seperti itu?




/bellavir/

Comments

Popular Posts