#STORYTIME - Titik Cahaya Kecil dan Cangkangnya
Tidak ada cinta yang tidak terasa sakit.
Cinta akan bergerak dengan ritme naik dan turun, naik setinggi-tingginya, kemudian turun secara tiba-tiba. Cinta dengan ritme yang datar, artinya mati. Mengertikah?
Sesuatu yang tumbuh, berawal dari hal yang amat sangat kecil. Manusia, dulunya sebesar biji buah apel, mungkin jauh lebih kecil lagi. Buah, bungga, serangga? Semua hal yang tumbuh, pasti bermula seperti itu. Kemudian cepat atau lambat, Ia akan tumbuh besar seiring berjalannya waktu. Cinta, juga seperti itu, atau, anggaplah demikian. Seorang bijaksana pernah mengatakan, dimana cinta diibaratkan seperti titik cahaya yang kecil, yang diselimuti oleh sebuah cangkang. Lalu ketika titik cahaya yang kecil itu tumbuh besar, maka secara tidak langsung, cangkang yang menyelimutinya akan robek, terkelupas, rusak, dan lama kelamaan bisa hancur.
Mengertikah sekarang mengapa seiring cinta yang semakin membesar, maka akan lebih terasa sakit?
Mari bicarakan hal lainnya yang serupa: Menunggu.
Ambil saja contoh ketika Kau harus menunggu. Ketika bumi terasa berputar perlahan, dan jam dinding berdetak dengan detakan yang begitu berat, berbanding terbalik dengan detak jantungmu yang memompa lebih cepat, bagaimana rasanya? Bagaimana hatimu saat itu? Berbagai macam pikiran berlari-lari, mengacaukan pikiranmu hingga tidak tahu harus melakukan apa selain berdiam diri.
Menunggu,
membiarkan detik waktu dan detak jantung yang saling berlawanan untuk menusuk-nusuk di ulu hatimu.
Kemudian Kau akan merasa khawatir.
Takut.
Kebingungan.
Tidak mampu menerka apa yang terjadi padanya di sana, tidak bisa memahami apa yang harus Kau lakukan, tidak tahu apakah Kau dibutuhkan, atau bahkan tidak diingat sama sekali. Cinta memang bekerja seperti itu. Satu di antaranya akan jauh lebih perasa. Satu di antaranya akan jauh lebih peduli. Hanya akan ada satu di antara keduanya yang akan merasa gundah, hanya satu di antaranya yang akan menangis.
Hanya satu, hanya satu yang akan jauh lebih menyayangi.
Cinta, dan cintalah yang membiarkanmu merasakan hal seperti itu. Agar kau belajar untuk bertahan. Cinta ingin Kau untuk memahami, untuk berhati baja, untuk bersabar menghadapi hal lainnya di depan sana, yang mungkin akan terasa jauh lebih menyakiti. Cinta ingin Kau dewasa. Cinta ingin Kau mengerti hal ini.
Saya tidak berkata bahwa tidak ada cinta yang indah. Lihat pasangan tua renta di luar sana? Apa mereka masih merasa tersakiti satu atau yang lainnya?
Tidak. Tentu saja tidak.
Namun yang tersisa di antara mereka hanyalah kasih sayang. Mereka sudah berhasil melewati jurang dan segala rintangan bersama-sama. Ketika cinta tumbuh seiring dengan langkah kaki mereka yang beriringan hingga tua, titik cahaya kecil yang dulu mereka miliki sudah tidak lagi memiliki cangkang,
Mengapa?
Karena cinta mereka sudah tumbuh terlalu besar.
Dan tak ada lagi cangkang yang mampu menyelimuti keduanya selain kasih sayang.
Kasih sayang yang tidak bisa robek,
tidak bisa rusak,
tidak bisa terkelupas,
tidak bisa habis.
Dan Kau harus ingat,
bahwa cinta, selalu butuh pengorbanan dalam bentuk apapun. Kau harus siap. Kau harus mengerti bahwa cinta adalah sebuah perjalanan yang tidak bisa terjadi dalam keadaan yang selalu baik-baik saja. Cinta bisa akan begitu memabukkan, membuatmu melayang, lalu meninggalkanmu sendirian. Namun tidak semuanya akan seperti itu. Semuanya, tergantung bagaimana Kau ingin membawanya dalam hidupmu.
Cinta ingin Kau belajar. Maka belajarlah dengan baik, nikmati setiap bahagianya, dan hargai setiap rasa sakitnya. Pahami bahwa cinta akan selalu seperti itu. Ia akan terasa sakit karena memang Kau benar-benar menginginkannya.
Cinta akan sering kali menusuk-nusuk, hanya untuk membuatmu jauh lebih bijaksana menghadapi setiap rasa yang dibuatnya.
Sekali lagi akan ku katakan,
Tidak ada cinta yang tidak terasa sakit,
Tidak ada titik cahaya kecil yang tumbuh besar tanpa merusak cangkang yang menyelimutinya.
tapi percayalah,
Kau akan tetap, dan selalu baik-baik saja setelahnya.
/bellavir/
Comments
Post a Comment