#STORYTIME - Bahagia di Bawah Sendunya Bulan November
Akhir-akhir ini, hujan deras terus membasahi Ibukota. Bahkan rasanya seperti tidak ingin berlama-lama membiarkan jalanan dan rerumputan kering. November, menjadi bulan penuh kekacauan untuk Saya. Banyak hal terjadi di luar dugaan. Ah, tidak. Segalanya memang lebih sering terjadi di luar pikiran Saya.
Saya sudah melewati masa itu. Masa yang kisahnya Saya tuliskan pada tulisan-tulisan sebelum ini. Saya bisa saja duduk mengurung diri dan menangis. Saya bisa saja membuang semua hal-hal yang mengingatkan Saya padanya. Saya bisa saja marah akan yang sudah terjadi. Tapi, Saya tidak memilih untuk itu. Saya tidak mengizinkan diri Saya hanyut dalam cerita hidup yang seperti ini. Saya memilih kenyataan, memilih untuk mengingat mimpi yang Saya miliki, dan terus melangkah melanjutkan apa yang seharusnya Saya jalani.
Meskipun itu artinya berjalan sendirian.
Sore ini, langit mendung menjatuhkan tetesan-tetesan air hujan yang ringan. Hingga setelah dua jam berikutnya, langit semakin gelap dan tetesan gerimis semakin deras, walaupun sesungguhnya masih bisa diterjang jika dipaksakan. Saya menyukai hujan seperti ini. Tenang, tidak mengancam, tidak deras, tidak berisik dan dingin. Dan hujan seperti inilah yang Saya dapati setelah pulang kuliah sore ini.
Perasaan gembira Saya rasakan kemudian, mungkin dari ketenangan yang Saya dapat berkat cuaca ini, atau mungkin dari hal lain yang entah dari mana. Saya berdiri di sisi pintu masuk, bersiap untuk kembali pulang menerjang rintik-rintik menyenangkan ini, sambil menemani seorang teman. Hingga beberapa detik kemudian, Saya melihat seorang laki-laki dan perempuan, yang Saya pastikan mereka juga merupakan Mahasiswa di Kampus Saya, berjalan beriringan di bawah hujan.
Tanpa payung. Tanpa Jaket. Tanpa apapun yang dapat melindungi mereka dari hujan.
Kecuali topi baseball yang laki-laki itu pakai, yang kemudian Ia lepaskan, dan Ia kenakan pada kepala teman perempuannya. membiarkan kepalanya sendiri tersentuh langsung rintik-rintik hujan tanpa perlindungan.
Lalu sekitar 3 meter di depannya, sepasang laki-laki dan perempuan, Mahasiswa lainnya, berjalan di bawah satu naungan payung, menghindari hujan yang mendera mereka berdua. Namun yang terlihat, payung yang digenggam laki-laki itu mengarah lebih banyak pada teman perempuannya, yang dapat dibuktikan bahwa kemeja yang laki-laki tersebut kenakan menjadi basah kuyup di sisi kanannya, sedangkan teman perempuannya tetap terlindungi tanpa tersentuh air sedikitpun. Dan terlebih lagi, mereka terus berjalan berdampingan, tertawa, dan terus bercakap-cakap.
Manis.
dan sederhana.
Hal tersebut tentulah bukan sesuatu yang luar biasa. Namun, ada hal lain yang Saya maknai atasnya. Bahwa di sana ada kepedulian, kekhawatiran, perlindungan. Walaupun mungkin kecil, tapi semua itu nyata adanya. Semua itu menyelimuti salah satu dari keduanya, sehingga terjadilah sekilas kejadian manis itu.
Dan ini yang Saya sadari. Bahwa suatu hari, akan ada waktu di mana Saya dapat merasakan pengalaman-pengalaman sederhana yang menyenangkan seperti itu. Dengan orang yang tepat, dengan cerita yang lain, dan dengan rasa hangat yang serupa.
Mungkin hal itu akan terjadi pada Saya saat hari-hari mendung yang lainnya. Mungkin, memang tidak untuk hari ini.
Tidak, Saya tidak sedih sama sekali. Justru dengan kesadaran dan keyakinan ini, bahwa hari ini bukan waktu untuk Saya merasakan hal tersebut, Saya merasa sangat senang dan jauh lebih baik. Saya merasa hidup, dan yakin bahwa segalanya telah berjalan sebagaimana mestinya.
Lalu setelah itu, saya mengeluarkan payung dari dalam tas, membukanya, kemudian melangkah pergi menjauh dari pintu masuk untuk berjalan pulang.
Meskipun itu artinya berjalan sendirian.
/bellavir/
Saya sudah melewati masa itu. Masa yang kisahnya Saya tuliskan pada tulisan-tulisan sebelum ini. Saya bisa saja duduk mengurung diri dan menangis. Saya bisa saja membuang semua hal-hal yang mengingatkan Saya padanya. Saya bisa saja marah akan yang sudah terjadi. Tapi, Saya tidak memilih untuk itu. Saya tidak mengizinkan diri Saya hanyut dalam cerita hidup yang seperti ini. Saya memilih kenyataan, memilih untuk mengingat mimpi yang Saya miliki, dan terus melangkah melanjutkan apa yang seharusnya Saya jalani.
Meskipun itu artinya berjalan sendirian.
Sore ini, langit mendung menjatuhkan tetesan-tetesan air hujan yang ringan. Hingga setelah dua jam berikutnya, langit semakin gelap dan tetesan gerimis semakin deras, walaupun sesungguhnya masih bisa diterjang jika dipaksakan. Saya menyukai hujan seperti ini. Tenang, tidak mengancam, tidak deras, tidak berisik dan dingin. Dan hujan seperti inilah yang Saya dapati setelah pulang kuliah sore ini.
Perasaan gembira Saya rasakan kemudian, mungkin dari ketenangan yang Saya dapat berkat cuaca ini, atau mungkin dari hal lain yang entah dari mana. Saya berdiri di sisi pintu masuk, bersiap untuk kembali pulang menerjang rintik-rintik menyenangkan ini, sambil menemani seorang teman. Hingga beberapa detik kemudian, Saya melihat seorang laki-laki dan perempuan, yang Saya pastikan mereka juga merupakan Mahasiswa di Kampus Saya, berjalan beriringan di bawah hujan.
Tanpa payung. Tanpa Jaket. Tanpa apapun yang dapat melindungi mereka dari hujan.
Kecuali topi baseball yang laki-laki itu pakai, yang kemudian Ia lepaskan, dan Ia kenakan pada kepala teman perempuannya. membiarkan kepalanya sendiri tersentuh langsung rintik-rintik hujan tanpa perlindungan.
Lalu sekitar 3 meter di depannya, sepasang laki-laki dan perempuan, Mahasiswa lainnya, berjalan di bawah satu naungan payung, menghindari hujan yang mendera mereka berdua. Namun yang terlihat, payung yang digenggam laki-laki itu mengarah lebih banyak pada teman perempuannya, yang dapat dibuktikan bahwa kemeja yang laki-laki tersebut kenakan menjadi basah kuyup di sisi kanannya, sedangkan teman perempuannya tetap terlindungi tanpa tersentuh air sedikitpun. Dan terlebih lagi, mereka terus berjalan berdampingan, tertawa, dan terus bercakap-cakap.
Manis.
dan sederhana.
Hal tersebut tentulah bukan sesuatu yang luar biasa. Namun, ada hal lain yang Saya maknai atasnya. Bahwa di sana ada kepedulian, kekhawatiran, perlindungan. Walaupun mungkin kecil, tapi semua itu nyata adanya. Semua itu menyelimuti salah satu dari keduanya, sehingga terjadilah sekilas kejadian manis itu.
Dan ini yang Saya sadari. Bahwa suatu hari, akan ada waktu di mana Saya dapat merasakan pengalaman-pengalaman sederhana yang menyenangkan seperti itu. Dengan orang yang tepat, dengan cerita yang lain, dan dengan rasa hangat yang serupa.
Mungkin hal itu akan terjadi pada Saya saat hari-hari mendung yang lainnya. Mungkin, memang tidak untuk hari ini.
Tidak, Saya tidak sedih sama sekali. Justru dengan kesadaran dan keyakinan ini, bahwa hari ini bukan waktu untuk Saya merasakan hal tersebut, Saya merasa sangat senang dan jauh lebih baik. Saya merasa hidup, dan yakin bahwa segalanya telah berjalan sebagaimana mestinya.
Lalu setelah itu, saya mengeluarkan payung dari dalam tas, membukanya, kemudian melangkah pergi menjauh dari pintu masuk untuk berjalan pulang.
Meskipun itu artinya berjalan sendirian.
/bellavir/
Comments
Post a Comment