Aku Bulan, Kau Matahari
Suatu hari,
Diceritakan ada Bulan dan Matahari yang terpaut oleh rasa
Katanya,
Matahari begitu jatuh hati pada bulan
Tidak peduli dengan rupanya,
Dengan kelemahannya,
Dengan ketidakmampuannya bercahaya
Cahayaku, cahayamu. Gumam mentari.
Bulan tersipu, lalu pergi ke ujung semesta lain
Merasakan ketidakpantasan dirinya untuk sang Matahari
Lalu guntur bersaut sautan,
Dewa telah hadir,
Menyampaikan takdir untuk Bulan dan Matahari
"Bulan dan Matahari takkan mungkin bersama sama." Ujarnya.
Tidak apa, sungguh tidak mengapa, Bulan. Percayalah, Bisik Matahari.
Lalu Dewa menghantarkan kuasanya,
Memisahkan Bulan dengan separuh jiwanya,
Satu satunya harta yang ia miliki
Cahayaku, tetap cahayamu.
Sesederhana itulah cinta Matahari kepada Bulan,
Yang bahkan memahami bahwa kehancuranlah yang akan menimpa semesta jika mereka tetap bersama,
Meninggikan ego,
Tanpa peduli keporakporandaan yang akan mereka ciptakan
Jadi, mereka berpisah
Dengan jarak yang amat sangat jauh
Menjalani kehidupan yang seharusnya,
Pada waktu yang berbeda,
Bulan malam, dan Matahari pagi
Namun,
mereka tetap satu dalam jarak
Memahami bahwa mereka takkan saling bersua lagi
Tetap berjanji sehidup semati hingga Dewa mengancurkan mereka juga pada akhirnya
Mereka tahu,
Mereka mengetahui apa yang akan terjadi
Namun,
Bukankah memang seperti itulah seharusnya ketulusan?
Sekarang kusadari,
Kukira, Bulan dan Matahari itu Kita.
Tapi ternyata tidak.
/bellavir/
Diceritakan ada Bulan dan Matahari yang terpaut oleh rasa
Katanya,
Matahari begitu jatuh hati pada bulan
Tidak peduli dengan rupanya,
Dengan kelemahannya,
Dengan ketidakmampuannya bercahaya
Cahayaku, cahayamu. Gumam mentari.
Bulan tersipu, lalu pergi ke ujung semesta lain
Merasakan ketidakpantasan dirinya untuk sang Matahari
Lalu guntur bersaut sautan,
Dewa telah hadir,
Menyampaikan takdir untuk Bulan dan Matahari
"Bulan dan Matahari takkan mungkin bersama sama." Ujarnya.
Tidak apa, sungguh tidak mengapa, Bulan. Percayalah, Bisik Matahari.
Lalu Dewa menghantarkan kuasanya,
Memisahkan Bulan dengan separuh jiwanya,
Satu satunya harta yang ia miliki
Cahayaku, tetap cahayamu.
Sesederhana itulah cinta Matahari kepada Bulan,
Yang bahkan memahami bahwa kehancuranlah yang akan menimpa semesta jika mereka tetap bersama,
Meninggikan ego,
Tanpa peduli keporakporandaan yang akan mereka ciptakan
Jadi, mereka berpisah
Dengan jarak yang amat sangat jauh
Menjalani kehidupan yang seharusnya,
Pada waktu yang berbeda,
Bulan malam, dan Matahari pagi
Namun,
mereka tetap satu dalam jarak
Memahami bahwa mereka takkan saling bersua lagi
Tetap berjanji sehidup semati hingga Dewa mengancurkan mereka juga pada akhirnya
Mereka tahu,
Mereka mengetahui apa yang akan terjadi
Namun,
Bukankah memang seperti itulah seharusnya ketulusan?
Sekarang kusadari,
Kukira, Bulan dan Matahari itu Kita.
Tapi ternyata tidak.
/bellavir/
Comments
Post a Comment