#LittleMessage - Sesuatu yang Diharapkan

Terkadang saya marah pada keadaan.
Kadang, juga kepada diri saya sendiri.
Saya marah ketika sesuatu terasa begitu tidak adil, ketika semua orang terlihat bahagia akan hidup yang dimilikinya, tapi saya tidak.
Saya pernah begitu menyesali segala sesuatu yang saya lakukan dan tidak saya lakukan. Sesuatu dalam diri saya mencabik cabik memaksa keluar agar semua orang mengerti apa yang sebenarnya saya maksudkan. Tapi lagi, saya memutuskan untuk mengendalikannya.
Saya takut suatu saat ketika sesuatu dalam diri saya mencapai puncaknya, Ia akan menjadi tak terkendali, melumpuhkan akal sehat saya sehingga Ia dapat dengan bebas menampakan diri.

Saya marah dengan apa yang terjadi.

Silahkan katakan bahwa saya tidak punya rasa syukur. Katakan bahwa saya harus banyak bersabar. Katakan saya seharusnya mengendalikan diri. Saya sudah terlalu sering melakukan nya. Mungkin belum cukup. Maaf, tapi saya sangat butuh bicara tentang hal ini.

Saya adalah remaja 17 tahun yang sehat jasmani dan rohani, dilahirkan dari keluarga yang baik dan mengutamakan kesederhanaan dan kasih sayang. Saya di kelilingi oleh teman teman yang banyak, pintar, baik, dan menyenangkan, saya memiliki jabatan disekolah dan cukup berprestasi. Segalanya terdengar sempurna, lalu apa yang memuakan saya?


Keadaan. Dan, saya.


Sampai suatu ketika saya memastikan bahwa apakah orang lain merasakan hal yang sama. Apakah orang lain mengalaminya juga. Ketika sesuatu terjadi diluar apa yang diharapkan, apakah mereka marah? Apakah mereka juga memaki diri mereka sendiri?

Saya memiliki seorang Ibu yang begitu protective. Ia begitu memastikan bahwa saya melakukan hal hal yang benar dan yang memang harus saya lakukan. Suatu ketika saya meminta izin kepadanya untuk pergi keluar rumah. Seperti yang biasa orang tua lakukan, Ia juga bertanya kemana saya akan pergi, bagaimana, dan dengan siapa. Sebagai anak yang telah dilatih berkata jujur, dan dengan mempelajari apa yang pernah saya alami, saya berkata apa adanya. Saya katakan padanya bahwa saya akan pergi ke suatu tempat, bersama seorang teman, laki-laki, menggunakan motor. Dan yang membedakan Ibu saya dengan orang tua lainnya, Ia selalu berkata; tidak.

Saya mengerti mengapa Ibu saya mengatakan demikian. Memang pada kenyataannya, saya berencana pergi dengan teman laki-laki (dia benar-benar seorang teman, bukan siapa siapa). Tapi, astaga, saya bersumpah tidak akan melakukan hal hal aneh. Dan, apa salahnya pergi dengan seorang teman laki-laki?

Kemudian, pikiran-pikiran tersebut muncul.

Mengapa saya tidak bisa seperti anak perempuan lain? Bebas bergaul dan baik baik saja? Mengapa harus saya? Ketika saya begitu yakin dan sadar dengan apa yang saya lakukan, dan apa yang akan saya lakukan.

Kemudian di hari lain, jauh setelah hari itu, saya mencoba lagi.
Tapi kemudian Ia tetap bilang; tidak.

Lalu hari lain, ketika saya sangat ingin pergi, saya berniat untuk berbohong, mengarang cerita, dan pergi.

Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati, saya merasa tidak akan tenang berpergian, dan segalanya akan terasa percuma.
Jadi, saya memutuskan untuk mengurungkan niat saya. Tapi saya tetap marah. Marah pada kenyataan bahwa saya tidak mampu melakukan apapun, walaupun untuk kesenangan saya sendiri.

Saya marah karena saya tidak seperti anak perempuan lain. Bebas, dan senang.

Saya termasuk seorang introvert. Lebih banyak mengabiskan waktu sendiri, membaca buku, bermain gadget, mendengarkan musik dengan earphone. Jadi tidak heran jika saya sulit untuk diajak berpergian. Hanya orang orang tertentu lah yang bisa mempengatuhi saya untuk lebih terbuka. Tapi ketika kesempatan itu datang, selalu ada saja yang mengalangi kesempatan saya untuk bebas, walau sesekali.

Saya berharap suatu saat nanti saya punya kendali penuh terhadap diri saya, tanpa mengaharapkan apapun dari orang lain. Ataupun mengharapkan segala sesuatunya terjadi seperti yang saya harapkan.

Lalu saya menyadari bahwa setiap kita, beberapa persen mengetahui bahwa sepertinya sesuatu akan terjadi diluar kendali. Sesuatu tidak akan pernah sama seperti yang kita bayangkan. Percaya atau tidak, 99% yang terjadi benar benar tidak sama. Dan 1% nya adalah kebetulan.


Setidaknya itu yang saya yakini. 



/bellavir/

Comments

Popular Posts