Segala yang Tersisa.



Aku terus bergerak dan berlari hingga hampir melupakan jalan pulang,
melupakan setiap titik bahagia,
lalu melupakan kita.


Sampai ketidaksadaranku mengambil alih isi kepala, mempertunjukan kenyataan yang kita pernah jalani dalam langkah yang seirama.
Sejauh apa pun jarak yang membentang, kau selalu tahu kemana harus kembali,
dan aku selalu tahu bagaimana harus menunggu dengan baik.
Seperti gadis kecil yang tumbuh dewasa, perlahan, aku tumbuh bersamamu.
Mengerti bahwa kebebasan, adalah apa yang mungkin kita butuhkan.
Namun kita, selalu bertemu kembali di titik tengah.


Melihat kita kini membuatku sulit untuk percaya,
bahwa kita pernah begitu lekat dalam ikatan semu yang amat sangat kupercayai.
Aku, masih mempercayainya hingga hari ini.
Walaupun nyatanya, aku masih kesulitan untuk membacamu.
Tapi aku mau mengerti.
Aku mau memahaminya.


Lalu kemarin,
ada kehampaan yang nyata dalam genggaman.
Dadaku berlubang layaknya ditembus oleh kekosongan.
Aku ingin menemanimu melewati malam ini, dan setiap titik rendah hingga sulitnya merangkak menjalani hidup.
Aku tidak tahu sekuat apa kau mampu bertahan dengan luka-luka itu, walau aku tentu meyakini kau pasti bisa mengobatinya.
Tapi aku mau menyediakan segala hal yang kau butuhkan agar rasa sakitnya berkurang secara perlahan.
Aku mau membantumu. Aku sungguh-sungguh menginginkannya.


Aku ingat bagaimana terakhir kali menemukanmu dalam kegelapan.
Aku ingat bagaimana saat itu kusadari bahwa apa yang kulihat hanyalah tubuh remuk yang bertahan untuk semua orang.
Apa yang ingin kukatakan saat itu adalah, bahwa aku sangat memahami semua itu, dan jika kau beri aku kesempatan, jika kau mau, kau bisa membuka lembaran demi lembaran dirimu hingga habis dan menunjukan segalanya padaku.
Kau, selalu bisa menjadi sepenuhnya kau di mataku.
Aku, selalu ingin menjadi tempatmu beristirahat.
Aku datang,
Aku datang lagi untuk menunjukan bahwa aku selalu di sana.


Lalu,
hari semakin cerah dalam segala sendu yang kita rasakan.
Aku diam-diam berterima kasih pada Tuhan bahwa kau dicintai oleh begitu banyak hati.
Walau mungkin milikku tak lagi sampai padamu, kurasa kau sudah cukup banyak menerima kehangatan dari jiwa yang lain.
Tapi aku akan selalu tetap mengalirkan jiwaku padamu.
Aku tidak tahu bagamana cara menghentikannya. Kurasa aku tak ingin.


Tak bisa kukatakan dengan pasti,
tapi ku bersumpah kurasakan air matamu mengalir bersama dengan sunyinya malam.
Bisakah kau rasakan guncangan bahuku menahan suara tangis di malam yang sama?
Kemarin, adalah hari yang panjang,
Kuharap tubuhmu berbaring dalam kelegaan yang selama ini tertahan dalam dadamu,
keluar bersama hembusan nafas berat yang kini tak lagi harus kau rasakan.


Dengar,
sudah cukup bagiku untuk meyakini bahwa aku tak pernah salah mempercayai hatiku yang terbawa olehmu tanpa sengaja.
Aku tak pernah memaksa sedikitpun kasih untuk kau tuangkan di atas kepalaku.
Karena ku tahu, aku sungguh-sungguh memahami bahwa di dunia ini, duniamu, aku bukanlah segalanya.
Hingga kuputuskan untuk meninggalkan sekumpulan kata yang kutulis dengan tangan yang gemetar padamu,
agar kau selalu ingat,
agar kau tahu bahwa pernah ada gadis kecil yang mengabadikanmu dalam tulisannya,
dan membiarkanmu hidup dalam ketulusannya.


Aku mungin hanya sebagian kecil dari keseluruhan kisah petualanganmu.
Tidak apa,
aku menikmati peranku dan terima kasih telah membiarkanku menari-nari di dalamnya.
Mungkin waktuku sudah habis, dan peranku sudah selesai.
Tapi kau harus mengetahui bahwa aku hanya akan berada dalam lingkaran kecil ini untuk membangun diriku sendiri, menjadi seutuhnya diri, dan membuatnya berharga.
Jika aku hilang, kau tahu kau akan selalu bisa menemukanku.


Dan,
Terima kasih pernah begitu menyayangi,
begitu menghargai setiap pasir kecil yang kukumpulkan dalam genggaman hanya untukmu.
Aku masih tidak tahu seberharga apa aku dalam rasa,
tapi kupikir semua itu tidak penting lagi.


Aku tidak menyerah, tidak akan. Kau tak pernah mengajariku untuk itu.
Aku hanya membuka tali,
untuk memudahkan langkah melanjutkan hidup yang kumiliki dan melepasmu terbang menelusuri sisi dunia lainnya.


Jika suatu hari kau menemukanku kembali,
kuharap kau mampu mengingat dan memahami apa yang pernah kulakukan dalam perjalanan ini, bukanlah kebodohan yang kulakukan tanpa kesadaran.
Aku, memberikan setiap hal-hal kecil yang bisa kuberikan, agar kau bisa membawanya pulang bersamamu.




Jika kau membaca ini,
aku belum selesai menyayangimu.

Namun apa yang tersisa kini sudah tidak penting lagi.

Jadi,
Terima kasih,
Tetaplah kuat,
dan sampai jumpa lagi di lain hari.




/bellavir/

Comments

Popular Posts