#SuratCinta - (Aku) Hanya Sejauh Nada Sambung Telepon Genggam (Untukmu)




1. Seharusnya aku mampu menahan kegugupanku dan tidak berbica dengan cepat tak beraturan. Hingga aku lupa menyapamu. Apakah kau baik-baik saja selama ini?


2. Kau tersenyum. Menyentuh wajahku sebagai pengganti kata sapa, "hai, sudah sekian lama, ya?"


3. Kepalaku menegang saat langkah ini membawaku pada situasi yang entah bagaimana harus kukendalikan. Tapi, astaga, kau sangat memukau semua mata di sana dan hatiku hangat seketika, seperti bagian dalam tubuh yang disirami coklat panas di musim dingin. Kau mengambil kendali. Melindungi segala kegelisahan gadis kecil kikuk yang berusaha sempurna di hadapanmu.


4. Mereka semua menyukaimu. Percayalah betapa inginnya aku agar kau datang dan duduk di sofa cokelatku, bertukar kalimat dengan Ayah di hari Minggu, dimana akhirnya kau memutuskan untuk datang memasuki pintu duniaku. Aku sungguh-sungguh ingin kau datang.


5. Roda berputar di bawah, dan langit malam memayungi perjalanan kita. Aku tidak yakin kapan waktu yang tepat untuk menjadi selurus dan sekeras batang kayu dan memutuskan untuk membakarnya hingga habis. Kau memandangiku. Kau tahu ada hal-hal yang berlarian di benakku. Aku selalu begitu. Dan kau selalu mengetahuinya.


6. Suaraku bergetar. Kalimatku terputus-putus hingga hampir kehilangan makna. Nadaku meninggi, kurasa. Tak tahu pasti apa yang akan kukatakan. Berusaha sebaik mungkin untuk menata kata-kataku agar habis tak tersisa mengenai apa yang selama ini kusembunyikan sendirian. 


7. Kau diam mendengarkan. Memandangiku, entah apa yang kau pastikan. Tapi kukatakan sekarang, terima kasih untuk itu.


8. Jangan menangis. Jangan Menangis.


9. Pandanganku lurus ke arah depan, cayaha lampu jalan dan kendaraan lainnya menjadi kabur bersamaan dengan melayangnya bagian diriku yang lain. Aku tak berpikir sedikitpun tentang ini, namun aku tahu kau menoleh padaku sebelum meraih tangan kananku untuk kau genggam. Dari sana, segala pertanyaan yang kusimpan selama ini serupa seperti bunga dandelion yang ditiup angin. Terhempas. Tidak penting lagi.


10. Kau menyayangiku. Kau menyayangiku. Aku tahu. Aku tahu. Aku mengulang-ulang kalimat ini hingga aku bisa mengecapnya dengan lidahku, merasakannya membasuh hati yang berada dalam kebingungan. Kau menyayangiku. Kau seharusnya menyayangiku. Aku benar, kan?


11. Aku terus meyakinkan diri. Aku menyadari bahwa kita akan kembali kehabisan waktu. Kita, selalu tidak punya waktu yang cukup untuk segalanya. Mungkin nanti. Mungkin lain hari.


12. Jangan Menangis. Jangan Menangis.


13. Aku menangis.


14. Untuk setiap genggaman tangan, berbagi cerita, tawa, pengertian, dan diam yang kumaknai adanya, kukumpulkan potongan kilas balik untuk mengingatkan saat aku kembali pada hari-hariku tanpamu, hari-hari tanpa bicara, hari-hari tanpa kabar, hari-hari tanpa tahu apa yang sedang kau lakukan, bahwa kau pernah melakukan hal yang setidaknya, sangat berarti untukku. Hal-hal sederhana. Hal-hal yang akhirnya, membuatku merasa bahwa aku tidaklah sendirian.


15. Tidak ada yang kusesali selain malam yang kulewati tanpa membiarkan kau tahu bahwa kapan pun itu, aku hanya akan berada sejauh nada sambung telepon genggam untukmu. Aku akan ada di sini. Mungkin kau butuh. Mungkin kau mengingatku.


16. ...mungkin juga tidak.


17. Tapi aku terlalu terburu-buru. Aku tidak menyampaikannya. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara agar aku segera sendirian. Aku tidak ingin berlama-lama lagi hanya untuk menghadapi kenyataan bahwa kita memang sudah harus berpisah. Aku, harus membiarkan diriku sendirian.


18. Aku mengambil barang-barangku. Melambaikan tangan bersamaan dengan harapan kau akan segera sampai rumah dan beristirahat. Aku benar-benar berpikir seperti itu. Lalu, menutup pintu dan bergegas pergi.


19. Sebuah taksi hampir saja manghantamku.


20. Percayakah kau jika kukatakan tanganmu masih bisa kurasakan hingga saat aku menulis ini. Aku tahu betul bahwa aku akan tetap bisa merasakannya bahkan hingga ribuan hari setelah ini.


21. Tolonglah tetap bicara denganku. Kau tidak tahu betapa sulitnya untukku menjaga segala yang terbentang di antara kita dalam ketidakpastian. Kau mungkin tidak membutuhkannya. Tapi aku, dan kita, iya, kurasa. Tidakkah begitu?


22. Aku tidak tahu bahwa jatuh cinta akan benar-benar terasa seperti ini. Aku tidak tahu sebuah kenangan dapat begitu melekat tidak peduli apa yang sedang kita lakukan.


23. Aku selalu mengingatmu. Tolong ingat aku juga.





/bellavir/

Comments

Popular Posts