Untuk Kita, Perempuan.



Untuk kita,
yang rela duduk diam menunggu dalam ketidaknyamanan rasa khawatir, serta suara-suara bising dalam pikiran yang meronta meminta mereka untuk cepat kembali dan memilih bersabar atasnya

Untuk kita,
yang memilih untuk tetap bergerak sembari menunggu kabarnya yang tak pasti, berusaha memperbaiki diri demi rasa bangga darinya saat ia kembali, dan memastikan bahwa diri ini telah cukup baik untuk dirinya mau menyayangi

Untuk kita,
yang tenggelam pada rasa rindu yang samar, sekaligus ketidakpedulian pada mereka yang terus datang dan menghilang, namun tetap dengan baik hati mempersilahkan mereka untuk sekali lagi masuk dan beristirahat dalam dekapan

Untuk kita,
yang dengan senang hati mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik demi kedatangan mereka kembali, memakai hiasan dan pakaian terbaik, pergi jauh menyusulnya, menyambutnya, walau hanya untuk beberapa saat, walau hanya untuk menunjukan wajah dan senyum kelegaan, walau mungkin mereka tak menyadari satu pun hal dari semua itu

Untuk kita,
yang hampir setiap malam kelelahan, karena melerai hati dan pikiran yang tak sejalan, menangisi diri dan mereka yang bahkan tak mengetahui sudah berapa tetesan air yang keluar dari mata ini untuknya

Untuk kita,
yang mempunyai seribu satu alasan untuk berhenti berusaha, atas segala hal yang terlihat percuma, atas usaha yang tak disadari, namun memilih tetap tinggal sekali lagi hanya karena memiliki satu alasan untuk bertahan

Untuk kita,
yang tetap berdiri tegak di atas kaki kita sendiri, terus berlari mengejar mimpi walau telah berkali-kali dihempaskan serta kehilangan tempat bernaung dan dukungan darinya

Untuk kita,
yang menerima dan memahami bahwa dunia dan hidup ini bukanlah sesuatu yang sifatnya tetap dan diam, namun yang terus berubah seiring berjalannya waktu, dan mengetahui, bahwa itu juga lah yang terjadi padanya, pada kita semua

Untuk kita,
yang tidak memiliki hati yang tak mampu dihancurkan, melainkan hati yang pantang menyerah, hati yang mau menerima, hati yang mampu membalut dirinya sendiri dengan maaf, hati yang bisa menguatkan dirinya sendiri



Untuk kita,

perempuan,

yang ketulusan hatinya tak memiliki pembanding apapun,

sudahlah, tidak mengapa.

Tidak mengapa jika sesekali kita yang mengalah
tidak mengapa jika sesekali kita yang menunjukan pengorbanan
jika sesekali kita menghubunginya, memastikan segalanya berjalan baik untuknya
jika sesekali kita menjadi tempatnya kembali
jika sesekali kita menangis kelelahan, diam-diam, tanpa mereka ketahui sakitnya
tidak mengapa,
tidak mengapa jika sesekali kita merasa hanya kita lah satu-satunya yang berusaha



atau mungkin, tidak mengapa pula, jika memang kita selalu seperti itu.


Memberi, tak akan membuat kita kekurangan.
Pengorbanan, tidak mengenal yang namanya sia-sia.
Menunggu, tidak tahu apa artinya percuma.

Biarkan semua ini menjadi selimut yang menguatkan kita perlahan-lahan.
Biarkan mereka bermain-main, biarkan mereka menyadari keberhagaan kita dalam penyesalan.
Biarkan kebaikan kita ditemukan oleh mata mereka-mereka yang memperhatikannya, yang sepadan, yang pantas untuk segala hal yang kita usahakan,

untuk mereka, laki-laki, yang mau berjalan beriringan tanpa mendahului
mereka, yang mau memahami, mengasihi, dan menghargai tiap-tiap tangis kita di malam-malam yang telah terlewati dengan berat hati.



Setelahnya, tak akan ada lagi malam-malam seperti itu.




/bellavir/

Comments

Popular Posts