#STORYTIME - Yang Selalu Kubawa, Setiap Kali Aku Berlabuh. (Yang Selalu Ditunggu Hadirnya)


Dan seperti itulah, hadiah bagi yang sabar menunggu.


Menunggu, adalah perkara menghadang waktu yang bergerak sesukanya, tanpa jeda, tanpa henti. Bagi yang harus menunggu, tunggulah ia dengan segala sisa sabar yang kau punya. Yakinlah bahwa segala sesuatunya akan berakhir baik, entah untukmu, atau untuknya. Pentingkah hal itu? tidak. Tidak untuk kau yang menyerahkan hatimu, tidak untuk kau yang mempercayai, dan tidak pula untuk kau yang menyayangi dalam diam. Jika yang kau lakukan ini untuk hal, atau, seseorang yang punya makna di hidupmu, menunggu, seharusnya tidaklah lagi menjadi perkara yang besar.


Saya terbiasa dengan ini. Saya membiasakan diri bahwa memang, kenyataannya, orang selalu datang-dan pergi begitu saja. Bukan karena mereka selalu berniat seperti itu. But they have their own life too. Mereka hidup dan mereka akan terus bergerak. Dan itu juga berlaku untuk kita semua, bahwa setiap kali kita pergi, sering kali, juga harus ada sesuatu yang ditinggalkan. Entah keadaan, cerita, hati, atau bahkan seseorang.


Saya sudah terbiasa. Karena itulah saya di sini, seperti ini. Belajar, menyibukan diri, menghabiskan waktu bersama teman-teman, menulis, pergi seorang diri, menikmati hidup dengan cara saya sendiri. I do thinking about something—someone, every single day. How they're doing over there, is everything just fine, etc. Semuanya, tentu saya pikirkan. Bedanya, pada kadar kepercayaan dan keyakinan bahwa penantian, adalah saat berharga dimana kita seharusnya bisa memperbaiki diri selagi menunggu.


Tapi memang, semuanya terasa mudah, sampai akhirnya saya benar-benar mengalaminya sendiri. I've been attached to someone for months. Seseorang yang punya tempat khusus in the corner of my heart since earlier this year. Tidak peduli kepada siapa saya berlabuh, dia selalu tetap di sana, saya simpan dalam diam, tahu bahwa pada akhirnya dialah yang akan saya rindukan.


Mata saya tak terlepas. Begitu terpukau pada sosok yang entah bagaimana saya menggambarkannya. Dan sejak perjumpaan pertama, ia tidak pernah hilang hingga detik ini. Hingga suatu saat semesta menariknya dalam sosok yang nyata ke dalam kehidupan saya. Ia, benar-benar hadir di kehidupan saya.


Hingga suatu hari tiba dimana saya kehilangan arah. Saya merasa dibiarkan melayang di antara langit dan lautan tak tenang, entah harus bagaimana, entah harus seperti apa. Sampai saya memutuskan untuk mengurangi perasaan saya secara paksa. Lalu memutuskan berlabuh pada yang lainnya. Yang padahal saya sadari, saat itu, ternyata perasaan saya tidak bisa dikurangi sama sekali, walau ia entah kemana, walau saya berlabuh pada siapa.


Suatu hari kami bertemu. Saya datang lebih dulu, menyeret langkah, membawa rasa yang melimpah tidak karuan. Saya menunggu dengan secangkir kopi yang saya sisakan setengahnya, dan tak dihabiskan hingga ia berubah menjadi dingin. Lalu ia datang, dan rasa yang saya bawa tumpah begitu saja karena tidak bisa lagi terbendung. Kami bicara. Katanya, saya sudah memilih pilihan saya sendiri. Maksudnya, pelabuhan itu. Katanya, saya harus terus melanjutkan pilihan saya tersebut. Yang ia tak tahu, bahwa yang saya pilih, adalah dia. Dan ini menjadi kesalahpahaman yang amat sangat saya sesali.


Kemudian saya berhenti bicara. Tapi suara di pikiran saya tak kunjung berhenti bersahut-sahutan. Saya mengalihkan pandangan saya darinya ke arah luar, memandangi lalu lalang orang berjalan walau sebenarnya saya menatap kosong. Mati-matian untuk tidak menangis.


Saya tahu, bahwa apa yang saya lakukan itu adalah hal yang sia-sia. Ia sudah hadir di depan mata, namun saya memilih bungkam tidak tahu harus berkata apa. Walau di kepala ini banyak sekali pertanyaan dan hal-hal lainnya yang ingin saya sampaikan. Saya tidak bisa. Dan saya benci itu terjadi.


Hingga beberapa waktu kemudian, walau malam baru saja mulai, kami memutuskan untuk menyudahinya. Ia ingin pulang, dan tidak untuk saya. Saya tidak mau membiarkan saya menenggelamkan diri dengan sengaja jika saya pulang dan sendirian.



Jadi, kami berpisah. Bangkit dari kursi dan meninggalkan kepahitan yang sudah berubah dingin. Lalu ia pergi. Dan kami, berjalan ke arah yang berlawanan.



Saya memutuskan untuk mencari tempat sepi yang jauh dari keramaian. Tapi tidak bisa, tidak ada. Hingga saya memutuskan untuk menghubungi seorang teman, dan menangis padanya dalam sambungan telepon genggam.


Beberapa waktu setelahnya, saya memutuskan untuk pulang. Tidak ada lagi yang harus saya lakukan di sini. Saya harus pulang. Saya tidak bisa lagi berlama-lama berada di tempat di mana saya selalu ditinggalkan. Tempat di mana saya, kerap kali mengakhirinya dengan menangis.



Setelah hari itu, hari-hari selanjutnya pada minggu yang sama, saya habiskan dengan beraktivitas. Menyibukan diri sebagai usaha untuk meredam apa yang telah terjadi. Dan entah apa yang dunia ingin tertawai dari saya, 4 hari setelah malam itu, saya menemukannya lagi. Duduk bersama teman-temannya di dalam suatu ruangan yang saya masuki, berada dalam lingkup aktivitas yang sedang saya jalani.


Dia terlihat baik, seperti biasa, tentunya. Selalu seperti itu sejak perjumpaan yang pertama. Bahkan mungkin jauh sebelum itu. He looks all the way fine. Seperti hidup benar-benar memperlakukannya dengan baik. Bagus, dan syukurlah memang. Tapi yang saya tahu, tidak ada lagi saya di matanya. Saya seperti hilang. Saya seperti begitu kasat mata. Tidak ada. Tidak nyata. Dan seperti itulah, bagaimana kesedihan saya memuncak begitu saja.


Kemudian tidak lama beberapa bulan setelahnya, saya mengakhiri semuanya. Saya meninggalkan pelabuhan dan pergi lagi seorang diri. Rasanya begitu menyenangkan, bebas, dan saya mampu bernafas lebih baik. Lalu entah ada apa dengan dunia yang aneh ini, dia, yang beberapa waktu lalu pergi meninggalkan saya ke arah yang berlawanan, kembali datang dan menyapa.



That was just how life works. 

Tidak terprediksi, dan penuh dengan kejutan. Pembicaraan kami membaik, hampir setiap hari saya dapat mengetahui apa yang sedang ia lakukan di sana, bagaimana kabarnya, dll. Semuanya terasa cukup untuk saya. Semuanya, benar-benar seperti kehilangan yang dikembalikan secara utuh. Menenangkan. Menyenangkan.




Dan sampailah kami pada suatu sore yang basah setelah hujan. Hari itu adalah hari di mana memang kami sepakat untuk bertemu, sebelum ia harus terbang ke negri jiran, sebelum ia harus pergi lagi kurang lebih 450 mil jauhnya. Jadi, i was trying to live at the moment. Saya benar-benar berusaha menikmati momen yang ada. Momen yang entah kapan bisa saya rasakan lagi.


Malam menjelang, saya sudah harus kembali, dan ia juga harus segera pulang untuk mempersiapkan keberangkatannya besok. Sepanjang perjalanan saya begitu menyayangkan mengapa waktu cepat sekali berlalu. Mengapa kesempatan saya begitu kecil dan terbatas?


Lalu ia memarkirkan mobilnya. Menunggu beberapa saat, memberikan saya kesempatan sedikit lagi untuk menghabiskan waktu. Dan pada perbincangan yang singkat itu, segala kecemasan saya selama ini saya luapkan begitu saja. Saya sampaikan padanya hal-hal yang mungkin sedikit terlambat untuk ia ketahui. Tapi tidak apa-apa. Setelah ini saya akan mulai lagi. Saya akan lebih bersabar dan hati-hati. Saya tidak ingin kehilangan hal yang sama, hal yang selalu saya jaga sejak lama.


Sebelum saya turun dari mobil, saya memberikan sebuah buku yang saya buat secara khusus untuknya. Namanya tertulis di sampul bagian depan buku. Buku dengan kertas kosong, yang saya isi dengan puisi-puisi dari tulisan tangan saya sendiri, yang saya tulis setiap hari, yang membuat saya termotivasi setiap harinya, mengisi buku tersebut hingga akhir, hingga hari di mana saya bisa memberikan secara langsung kepadanya.



Ia tersenyum dalam gelap bersama sedikit cahaya yang menyinari. Dan untuk pertama kalinya, saya merasa segalanya terasa akan baik-baik saja.



Puas. Senang. Melegakan. Rasa syukur yang amat sangat. Bisa secara langsung memberikan apa yang selama ini saya usahakan secara khusus kepadanya. Mungkin, lagi-lagi, that's just how life works. Tidak ada kebetulan, tidak ada ketidaksengajaan.



Setelah berpisah malam itu, saya masuk ke dalam kamar. Duduk diam seperti biasa yang saya lakukan ketika berusaha merekam kembali apa yang telah saya lewati sejak beberapa jam yang lalu. Beberapa jam yang berharga. Beberapa jam yang entah kapan lagi bisa saya rasakan. Kemudian pikiran-pikiran itu muncul. Setelah hari ini, malam ini, menunggu, adalah kata yang menggambarkan hari-hari saya selanjutnya. Dan sabar, kepercayaan, keyakinan, dan keberanian, adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana cara saya untuk mampu melewati hari-hari yang berat setelah ini, seperti biasa.





Dan satu hal lagi yang baru benar-benar saya sadari adalah, rindu itu ternyata berat sekali, ya?





Tapi, tidak kah itu indah? kau dan yang lainnya, terpisah jarak ratusan hingga ribuan mil, bersama-sama mengejar tujuan yang berbeda di waktu yang bersamaan, belajar, bekerja, menjalani hidup dengan baik, dan terikat oleh harapan yang digantungkan ke atas langit, berdoa untuk lain kesempatan bisa berjumpa lagi. Bersama lagi.  Tertawa lagi. Menangis. lagi,


Berdoalah, perbanyaklah doa kepada pemilik semua hati di atas bumi. Berdoalah agar kau dengan yang lainnya dikuatkan hatinya. Berdoalah agar jarak dan waktu tak ada lagi artinya di antara kalian. Berdoalah agar cita-cita keduanya, mampu terwujud dengan cara yang baik. Berdoalah agar mungkin, Ia akan memberikan kalian hari-hari lainnya sebagai bentuk kesempatan yang menyenangkan.


Semoga yang jauh, akan selalu di dekatkan hatinya, entah bagaimana pun caranya.




Setidaknya, seperti itulah sekiranya hal yang mampu saya lakukan saat menunggu.




/bellavir/

Comments

Popular Posts