#STORYTIME - Sebuah Usaha untuk Kembali Berlari
Dan dalam kecintaan saya terhadap menulis, ada pihak yang nyatanya sempat mampu menghentikan saya melakukan ini. Ia menekan, menangkis setangkup rasa yang saya simpan dan jaga baik-baik, dan membuang apa yang tersisa, hingga tak ada lagi rasa dalam diri ini untuk menulis satu kata pun.
Saya cinta menulis, dan ia menghentikannya.
Tibalah masa dimana hati saya berubah mengeras, seperti genangan air pada suhu yang amat sangat rendah, yang membeku, begitu padat. Saya tidak lagi seperti air yang mudah membentuk diri untuk menyesuaikan wadahnya, tidak lagi seperti mainan yang ditekan dan dipukul sesuka hati menjadi berbagai bentuk, atau seperti lilin yang terbakar―pasrah akan api yang membuatnya meleleh menjadi tidak lagi berguna. Hati saya, tidak lagi semudah itu untuk dipermainkan.
Lalu setelah itu, entah bagaimana caranya, hati saya seperti sudah dipersiapkan untuk hal-hal tidak terduga. Tidak lagi merasakan sakit, dan tidak lagi bisa mendorong air mata saya keluar sedikitpun. Aneh, bangga, bahagia. Perasaan-perasaan yang saya jadikan tanda, bahwa saya sudah menang.
Namun sebelum dan sesudahnya, kemarahan saya masih berada di ambang batas. Entah siapa yang harus disalahkan, entah darimana pikiran ini berasal, tapi sejak itu, saya kehilangan rasa ingin menulis. Saya kehilangan rasa ingin berbagi. Saya begitu marah ketika menyadari tak ada kata yang bisa saya tuangkan, tak ada hal yang bisa saya sampaikan. Rasanya seperti ia tak memiliki pengaruh apapun lagi untuk saya. Rasanya seperti saya sudah membuang-buang waktu yang saya miliki untuk jatuh cinta tanpa meninggalkan kata. Tak ada sisa satu kata pun di pikiran saya. Sama sekali tidak ada kata di sana. Saya kehilangan apa yang saya cintai. Pelarian saya.
Suatu hari, ketika kekosongan itu menaungi saya sepanjang minggu, memikirkan bagaimana lelaki seperti itu mampu membuat saya tidak ada gunanya lagi? Bagaimana saya bisa begitu lengah, membiarkan orang lain merebut satu-satuya hal yang saya punya? Kemudian pikiran-pikiran tersebut membawa saya pada Ayah saya, lelaki yang tak pernah sekalipun menyakiti saya, tidak pernah sekalipun melukai saya dengan kata-katanya, dengan tangannya, yang selalu menomorsatukan saya. Hal ini membuat saya merasa harus melakukan sesuatu. Saya tidak bisa diam saja. Saya tidak bisa meninggalkan tempat ini tanpa menghasilkan senyum diwajah kedua orang tua saya, dalam hal ini adalah Ayah.
Dan dengan ini, saya putuskan untuk sementara waktu berhenti menulis pada halaman ini, dan beralih pada halaman lainnya untuk mempersiapkan apa yang saya mimpikan sejak kecil. Sebuah mimpi anak perempuan usia 11 tahun yang dulu sempat menangis diam-diam di dalam kamarnya, begitu marah karena cerita pendek yang dibuatnya menghilang, yang kemudian berhenti menulis, membuang mimpinya itu jauh-jauh, dan melupakannya.
Namun pada usianya yang ke-19, hidup mengguncang tubuhnya, menyadarkan bahwa mimpinya dulu bukan hanyalah sebuah mimpi kecil tak berguna. Mimpi tersebut yang ternyata membentuk dirinya hingga kini tanpa sadar. Dan untuk itu, ia kembali menggali mimpi tersebut dalam tumpukan mimpi-mimpi yang terlupakan, dan memutuskan untuk melanjutkannya.
Mimpi untuk membuat sendiri buku miliknya. Buku saya sendiri.
Buku ini akan berupa kumpulan puisi-puisi yang pernah saya buat, dari blog ini, dari notes handphone saya, dari coret-coretan tak berarti di balik buku catatan kuliah, hingga puisi-puisi yang saya buat saat perjalanan pulang ke rumah, atau bahkan tempat-tempat tidak terduga lainnya.
Saya tidak memastikan kapan hal ini akan terealisasikan. Prosesnya yang sangat panjang, dan belum lagi hal-hal lainnya seperti penolakan dari penerbit (semoga tidak terjadi) atau karena satu dan lain hal, Yang terpenting saya sudah memulainya lagi. Saya sudah bergerak untuk kembali berlari lagi.
Ini adalah sebuah titik balik atas segala hal yang terjadi. Pada mimpi masa kecil saya yang tertunda bertahun-tahun lamanya, pada apapun, dan siapapun yang membuat saya sempat berhenti untuk melakukan apa yang saya cintai.
Untuk kalian yang baik hatinya, tolong doakan yang terbaik untuk saya mewujudkan hal ini. Tolong doakan kelancaran dan niat saya menyenangkan hati gadis kecil yang mimpinya sempat terhenti bertahun tahun yang lamanya. Tolong doakan bahwa suatu hari nanti, tangan ini akan dapat menggenggam sebuah buku berisi seluruh isi hatinya sendiri, dan mampu memberikan manfaat secara langsung maupun tidak langsung pada siapapun yang membacanya.
Dan dengan itu pula, Bismillahirrahmanirrahim,
Saya cinta menulis, dan ia menghentikannya.
Tibalah masa dimana hati saya berubah mengeras, seperti genangan air pada suhu yang amat sangat rendah, yang membeku, begitu padat. Saya tidak lagi seperti air yang mudah membentuk diri untuk menyesuaikan wadahnya, tidak lagi seperti mainan yang ditekan dan dipukul sesuka hati menjadi berbagai bentuk, atau seperti lilin yang terbakar―pasrah akan api yang membuatnya meleleh menjadi tidak lagi berguna. Hati saya, tidak lagi semudah itu untuk dipermainkan.
Lalu setelah itu, entah bagaimana caranya, hati saya seperti sudah dipersiapkan untuk hal-hal tidak terduga. Tidak lagi merasakan sakit, dan tidak lagi bisa mendorong air mata saya keluar sedikitpun. Aneh, bangga, bahagia. Perasaan-perasaan yang saya jadikan tanda, bahwa saya sudah menang.
Namun sebelum dan sesudahnya, kemarahan saya masih berada di ambang batas. Entah siapa yang harus disalahkan, entah darimana pikiran ini berasal, tapi sejak itu, saya kehilangan rasa ingin menulis. Saya kehilangan rasa ingin berbagi. Saya begitu marah ketika menyadari tak ada kata yang bisa saya tuangkan, tak ada hal yang bisa saya sampaikan. Rasanya seperti ia tak memiliki pengaruh apapun lagi untuk saya. Rasanya seperti saya sudah membuang-buang waktu yang saya miliki untuk jatuh cinta tanpa meninggalkan kata. Tak ada sisa satu kata pun di pikiran saya. Sama sekali tidak ada kata di sana. Saya kehilangan apa yang saya cintai. Pelarian saya.
Suatu hari, ketika kekosongan itu menaungi saya sepanjang minggu, memikirkan bagaimana lelaki seperti itu mampu membuat saya tidak ada gunanya lagi? Bagaimana saya bisa begitu lengah, membiarkan orang lain merebut satu-satuya hal yang saya punya? Kemudian pikiran-pikiran tersebut membawa saya pada Ayah saya, lelaki yang tak pernah sekalipun menyakiti saya, tidak pernah sekalipun melukai saya dengan kata-katanya, dengan tangannya, yang selalu menomorsatukan saya. Hal ini membuat saya merasa harus melakukan sesuatu. Saya tidak bisa diam saja. Saya tidak bisa meninggalkan tempat ini tanpa menghasilkan senyum diwajah kedua orang tua saya, dalam hal ini adalah Ayah.
Dan dengan ini, saya putuskan untuk sementara waktu berhenti menulis pada halaman ini, dan beralih pada halaman lainnya untuk mempersiapkan apa yang saya mimpikan sejak kecil. Sebuah mimpi anak perempuan usia 11 tahun yang dulu sempat menangis diam-diam di dalam kamarnya, begitu marah karena cerita pendek yang dibuatnya menghilang, yang kemudian berhenti menulis, membuang mimpinya itu jauh-jauh, dan melupakannya.
Namun pada usianya yang ke-19, hidup mengguncang tubuhnya, menyadarkan bahwa mimpinya dulu bukan hanyalah sebuah mimpi kecil tak berguna. Mimpi tersebut yang ternyata membentuk dirinya hingga kini tanpa sadar. Dan untuk itu, ia kembali menggali mimpi tersebut dalam tumpukan mimpi-mimpi yang terlupakan, dan memutuskan untuk melanjutkannya.
Mimpi untuk membuat sendiri buku miliknya. Buku saya sendiri.
Buku ini akan berupa kumpulan puisi-puisi yang pernah saya buat, dari blog ini, dari notes handphone saya, dari coret-coretan tak berarti di balik buku catatan kuliah, hingga puisi-puisi yang saya buat saat perjalanan pulang ke rumah, atau bahkan tempat-tempat tidak terduga lainnya.
Saya tidak memastikan kapan hal ini akan terealisasikan. Prosesnya yang sangat panjang, dan belum lagi hal-hal lainnya seperti penolakan dari penerbit (semoga tidak terjadi) atau karena satu dan lain hal, Yang terpenting saya sudah memulainya lagi. Saya sudah bergerak untuk kembali berlari lagi.
Ini adalah sebuah titik balik atas segala hal yang terjadi. Pada mimpi masa kecil saya yang tertunda bertahun-tahun lamanya, pada apapun, dan siapapun yang membuat saya sempat berhenti untuk melakukan apa yang saya cintai.
Untuk kalian yang baik hatinya, tolong doakan yang terbaik untuk saya mewujudkan hal ini. Tolong doakan kelancaran dan niat saya menyenangkan hati gadis kecil yang mimpinya sempat terhenti bertahun tahun yang lamanya. Tolong doakan bahwa suatu hari nanti, tangan ini akan dapat menggenggam sebuah buku berisi seluruh isi hatinya sendiri, dan mampu memberikan manfaat secara langsung maupun tidak langsung pada siapapun yang membacanya.
Dan dengan itu pula, Bismillahirrahmanirrahim,
"Semua puisi yang
ada di dalam buku ini,
mengandung pesan
tersirat untuk yang menginspirasi,
pelajaran untuk
yang membaca,
dan renungan
untuk yang turut merasakan.
Kepada Tuhanku,
Allah SWT,
yang dengan
kuasanya mengizinkan saya
mewujudkan mimpi
masa kecil yang sempat terhenti untuk terjadi
Dengan adanya
buku ini,
saya
persembahkan dengan rasa sayang yang amat sangat,
terima kasih,
untuk Papi,
Mami, dan Mas Tio.
Serta
orang-orang yang baik hatinya,
yang secara
diam-diam saya ambil makna kehadiran mereka di hidup saya,
Terimakasih,
Untuk ......., ........, ........, ........, ......., ........, ........., .........
Dan tentu saja,
Terimakasih,
Untuk nama-nama
lain yang tidak bisa di sebutkan,
Nama-nama yang
membuat saya terus menulis,
Nama-nama di balik
semua tulisan-tulisan ini."
/bellavir/
Aamiin kutunggu ya kak! I'll be the seconds person who buys ur book! Yg pertama pastinya adalah keluargamu kak hehehe:)
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete